Bab 1
Manusia Tidak Memilih Titik Berangkatnya
Manusia tidak memilih kapan ia dilahirkan, dari keluarga mana ia berasal, di tengah masyarakat seperti apa ia dibesarkan, bahasa apa yang pertama kali dikenalnya, kebudayaan apa yang membentuk cara berpikirnya, dan agama apa yang pertama kali diperkenalkan kepadanya.
Seorang anak yang lahir dalam keluarga Muslim hampir selalu mengenal Islam sejak awal kehidupannya. Anak yang lahir dalam keluarga Kristen akan mengenal kekristenan. Demikian pula anak yang lahir dalam keluarga Hindu, Buddha, Yahudi, atau lingkungan keagamaan maupun kebudayaan lainnya. Sebelum memiliki kemampuan untuk menilai dan memilih, manusia telah lebih dahulu menerima sejumlah keadaan sebagai bagian dari kehidupannya.
Karena itu, agama yang diwarisi semenjak kelahiran pada dasarnya merupakan titik pemberangkatan, bukan hasil pilihan sadar manusia.
Persoalan ini menjadi penting ketika keselamatan dipahami sebagai perjalanan manusia kembali kepada Rabb. Jika titik pemberangkatan tidak dipilih, maka ukuran keselamatan tidak cukup hanya didasarkan pada keadaan awal seseorang. Yang perlu dilihat adalah bagaimana manusia menggunakan apa yang telah diberikan kepadanya dalam perjalanan hidupnya.
Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat penting mengenai hal ini:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan menurut apa yang telah diberikan-Nya kepadanya.” (QS At-Talaq [65]:7)
Kata آتَاهَا (ātāhā)—“yang telah diberikan kepadanya”—menunjukkan adanya sesuatu yang terlebih dahulu diterima manusia sebelum menjadi dasar pembebanan. Manusia menerima kapasitas, keadaan, lingkungan, pengetahuan, kesempatan, dan berbagai kondisi kehidupan yang tidak seluruhnya berada dalam wilayah pilihannya.
Prinsip yang sama tampak dalam firman Allah:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS Al-Baqarah [2]:286)
Dengan demikian, keadilan ilahi tidak dapat dibaca dengan cara yang mengabaikan kondisi awal manusia. Setiap manusia menjalani kehidupan dengan bekal dan lingkungan yang berbeda. Ada yang sejak kecil memperoleh akses yang luas terhadap ilmu, ada yang hampir tidak memperoleh kesempatan untuk belajar. Ada yang hidup dalam lingkungan yang mendorong pencarian kebenaran, ada yang hidup dalam lingkungan yang justru membatasi pencarian itu.
Perbedaan keadaan tersebut bukan berarti manusia kehilangan tanggung jawab. Justru di sinilah persoalan perjalanan dimulai.
Allah berfirman:
وَفِي مَا آتَاكُمْ فَابْلُوْكُمْ
“... untuk menguji kalian terhadap apa yang telah diberikan-Nya kepada kalian.” (QS Al-Ma’idah [5]:48)
Ayat tersebut hadir setelah penjelasan bahwa bagi setiap umat telah diberikan syir‘ah dan minhaj :
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ
“Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat, tetapi Dia hendak menguji kalian terhadap apa yang telah diberikan-Nya kepada kalian.”
Dengan demikian, perbedaan titik pemberangkatan bukan sesuatu yang luput dari pengetahuan Allah. Justru perbedaan tersebut ditempatkan dalam kerangka ujian: apa yang dilakukan manusia dengan apa yang telah diterimanya?
Di sinilah perlu dibedakan antara keadaan yang diterima dan sikap terhadap keadaan yang diterima.
Kelahiran bukan pilihan. Keluarga bukan pilihan. Bahasa pertama bukan pilihan. Lingkungan budaya bukan pilihan. Agama yang pertama kali dikenal juga bukan pilihan sadar.
Tetapi setelah manusia memiliki kemampuan untuk mendengar, melihat, memahami, mempertimbangkan, dan memilih, persoalannya berubah.
Al-Qur’an menyatakan :
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا
“Dan janganlah mengikuti sesuatu yang tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS Al-Isra’ [17]:36)
Ayat ini menggeser persoalan dari apa yang diterima manusia kepada bagaimana manusia menggunakannya.
Manusia menerima sam‘—pendengaran. Ia menerima bashar—penglihatan. Ia menerima fu’ad—kemampuan batin untuk mengolah dan menilai. Ketiganya bukan sekadar perangkat biologis, tetapi bagian dari perangkat epistemik yang memungkinkan manusia membaca kehidupan.
Karena itu, tanggung jawab manusia tidak berhenti pada menerima informasi dari lingkungan. Mendengar tidak sama dengan mengetahui. Melihat tidak sama dengan memahami. Memiliki pengetahuan tidak otomatis berarti menyadari kebenaran. Bahkan kesadaran terhadap kebenaran belum selesai sebelum melahirkan sikap dan tindakan.
Al-Qur’an bahkan menggambarkan kemungkinan manusia memiliki perangkat tersebut tetapi tidak menggunakannya sebagaimana mestinya :
لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا
“Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami; mereka mempunyai mata, tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat; dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar.” (QS Al-A‘raf [7]:179)
Dengan demikian, persoalan keselamatan tidak berhenti pada pertanyaan: “Dari agama mana seseorang berasal?”
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
“Apa yang dilakukan manusia terhadap apa yang telah diberikan kepadanya?”
Di sinilah agama warisan harus ditempatkan secara proporsional.
Agama yang diterima sejak lahir dapat menjadi peta awal yang memperkenalkan manusia kepada Tuhan, wahyu, ibadah, nilai moral, dan jalan kehidupan. Namun peta awal tidak identik dengan keberhasilan mencapai tujuan.
Seseorang dapat memiliki peta yang baik tetapi tidak pernah berjalan. Seseorang dapat memiliki peta yang benar tetapi salah membacanya. Seseorang dapat memiliki peta yang diwariskan kepadanya, kemudian menemukan bahwa sebagian pemahamannya perlu dikaji kembali. Sebaliknya, seseorang yang berangkat dengan peta yang lebih tua atau terbatas tetap dapat menunjukkan kesungguhan luar biasa dalam mencari arah yang benar.
Maka, perbedaan agama pada titik kelahiran lebih tepat dibaca sebagai perbedaan kondisi awal manusia, bukan sebagai kesimpulan akhir tentang keselamatannya.
Hal ini tidak berarti bahwa semua jalan keagamaan harus dianggap sama atau bahwa semua ajaran memiliki tingkat kebenaran yang sama. Persoalannya bukan menyamakan seluruh agama, melainkan membedakan antara titik pemberangkatan dan hasil perjalanan.
Al-Qur’an justru memberikan ruang bagi manusia untuk diuji melalui apa yang telah diberikan kepadanya. Karena itu, tanggung jawab manusia berlangsung di dalam kondisi konkret masing-masing.
Manusia tidak memilih dari mana ia berangkat. Tetapi ia tidak dibiarkan tanpa perangkat untuk berjalan.
Ia diberi pendengaran untuk menerima.
Ia diberi penglihatan untuk mengamati.
Ia diberi hati untuk memahami.
Ia diberi wahyu sebagai petunjuk.
Dan ia diberi kemampuan untuk memilih bagaimana seluruh pemberian itu digunakan.
Dari sinilah konsep keselamatan mulai bergeser: keselamatan bukan sekadar status yang melekat pada titik pemberangkatan, melainkan keberhasilan perjalanan manusia dalam menggunakan apa yang telah diberikan kepadanya untuk kembali kepada Rabb.
Karena itu, pertanyaan berikutnya bukan lagi sekadar “agama apa yang diwarisi manusia?”, melainkan “peta apa yang diterimanya, medan seperti apa yang dihadapinya, dan bagaimana ia menggunakan peta tersebut untuk menempuh perjalanan?”
Pertanyaan inilah yang membawa pembahasan kepada hubungan antara wahyu sebagai peta dan kehidupan sebagai medan perjalanan.
Komentar
Posting Komentar