Langsung ke konten utama

Postingan

HAKIKAT KESELAMATAN : Dari Identitas Menuju Perjalanan kepada Rabb

Bab 1 Manusia Tidak Memilih Titik Berangkatnya Manusia tidak memilih kapan ia dilahirkan, dari keluarga mana ia berasal, di tengah masyarakat seperti apa ia dibesarkan, bahasa apa yang pertama kali dikenalnya, kebudayaan apa yang membentuk cara berpikirnya, dan agama apa yang pertama kali diperkenalkan kepadanya. Seorang anak yang lahir dalam keluarga Muslim hampir selalu mengenal Islam sejak awal kehidupannya. Anak yang lahir dalam keluarga Kristen akan mengenal kekristenan. Demikian pula anak yang lahir dalam keluarga Hindu, Buddha, Yahudi, atau lingkungan keagamaan maupun kebudayaan lainnya. Sebelum memiliki kemampuan untuk menilai dan memilih, manusia telah lebih dahulu menerima sejumlah keadaan sebagai bagian dari kehidupannya. Karena itu, agama yang diwarisi semenjak kelahiran pada dasarnya merupakan titik pemberangkatan, bukan hasil pilihan sadar manusia. Persoalan ini menjadi penting ketika keselamatan dipahami sebagai perjalanan manusia kembali kepada Rabb. Jika titik pemberan...
Postingan terbaru

Dari Peta Warisan Menuju Jalan Kebenaran

By. Hamba Sejati   Membaca Perjalanan Rohani Connie Constantia dalam Perspektif Kasbi dan Epistemologi Hakikat Ada kisah-kisah keagamaan yang menarik bukan karena seseorang berpindah dari satu agama ke agama lain, melainkan karena seseorang tetap berada di lingkungan agama tempat ia dilahirkan, tetapi melakukan pencarian yang begitu dalam sehingga pemahamannya terhadap Tuhan, nabi, wahyu, dan keselamatan mengalami perubahan mendasar. Kesaksian rohani Connie Constantia menarik untuk dibaca dalam perspektif seperti itu. Connie dikenal sebagai mantan artis yang berasal dari lingkungan Kristen di Manado. Dalam berbagai kesaksian yang disampaikannya melalui media publik, ia menceritakan perjalanan spiritualnya, termasuk pengalaman-pengalaman batin yang ia pahami sebagai bagian dari proses pencarian Tuhan. Ia juga menceritakan proses doa, tirakat dan puasa, pengalaman rohani yang kemudian ia coba pahami dan validasi melalui orang-orang yang dianggap memiliki pengetahuan agama. Yang men...

Dua Level Kekafiran sebagai Keadaan Jiwa : Membaca Kembali Ayat tentang Marqad dan Azab Fir'aun

By. Hamba Sejati  Pendahuluan Al-Qur'an menggambarkan keadaan manusia setelah kematian dengan sejumlah ungkapan yang pada pandangan pertama tampak sulit dipertemukan. Di satu sisi, ketika sangkakala ditiup dan manusia dibangkitkan dari kubur, sebagian manusia berkata : «قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَن بَعَثَنَا مِن مَّرْقَدِنَا ۜ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ» «“ Mereka berkata, ‘Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami?’ Inilah yang dijanjikan oleh Yang Maha Pengasih, dan benarlah para rasul.”  ( QS Yasin 36:52 )» Di sisi lain, Al-Qur'an secara sangat spesifik mengatakan tentang Fir'aun dan pengikutnya: «النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ» «“Kepada mereka diperlihatkan neraka pada pagi dan petang. Dan pada hari terjadinya Kiamat, [dikatakan], ‘Masukkanlah keluarga Fir'aun ke dalam azab yang paling keras.’” ( QS Ghafir 40:46 )» K...

KERANGKA KOSMOLOGIS TIGA ALAM DAN PERIODISASI PERADABAN : PENAFSIRAN ULANG NARASI KUNO SERTA KEBUNTUAN TEOLOGISNYA

By. Hamba Sejati  Abstrak Selama berabad-abad, penafsiran teks-teks kuno—terutama Kejadian pasal 5–6 dan naskah Kitab Henokh —menimbulkan kebuntuan teologis dan kerancuan konseptual. Hal ini berakar pada kerangka pandang yang terbatas, yakni pembagian tunggal makhluk tak kasat mata hanya menjadi golongan malaikat baik maupun malaikat yang jatuh. Penelitian ini mengajukan kerangka kosmologis berbasis tiga tingkatan realitas : Alam Ruh , Alam Mitsal , dan Alam Ajsam , serta menghubungkannya dengan periodisasi sejarah peradaban manusia menjadi tiga fase utama. Hasil sintesis menunjukkan bahwa narasi mengenai makhluk yang turun ke bumi, persilangan antar-jenis, serta lahirnya keturunan raksasa bukanlah kisah mitologis atau hal yang mustahil, melainkan catatan peristiwa yang terjadi pada masa hukum alam dan batas antar-dimensi belum tersekat sebagaimana kondisi masa kini. Kerangka yang sama sekaligus menjelaskan kemungkinan pembangunan monumen raksasa purba yang selama ini dianggap m...

JEJAK PERADABAN SULAIMAN : SABA’, DAN RAHASIA BANGUNAN PURBA DI NUSANTARA DAN ASIA TENGGARA

By. Hamba Sejati  BAB I : PENDAHULUAN — Kabut Sejarah yang Menutup Peta Selama berabad-abad, kisah Nabi Sulaiman a.s. dan kekuasaannya dipahami secara sempit dan dibatasi dalam kerangka yang sudah ditetapkan jauh setelahnya. Pandangan yang mengakar menyatakan pusat kerajaannya berada di wilayah Palestina atau Syam, serta kekuasaannya terbatas di sekitar Semenanjung Arab. Namun pandangan ini tidak pernah bersumber langsung dari Al-Qur'an , melainkan tumbuh dari riwayat yang masuk ke dalam literatur Islam melalui tradisi Bani Israil — kaum yang hidup tersebar jauh dari tanah asalnya, menulis ulang ingatan sejarah berabad-abad kemudian, dan membawa kerangka pandang mereka sendiri. Akibatnya : ukuran kekuasaan yang digambarkan Al-Qur'an menjadi dipotong, dikecilkan, dan dikebiri maknanya. Padahal Al-Qur'an sendiri tidak pernah memberi peta pasti, tidak pernah menuliskan nama kota pusat pemerintahan, dan tidak pernah membatasi jangkauan kekuasaannya hanya pada satu sudut wilayah...