By. Hamba Sejati
Membaca Perjalanan Rohani Connie Constantia dalam Perspektif Kasbi dan Epistemologi Hakikat
Ada kisah-kisah keagamaan yang menarik bukan karena seseorang berpindah dari satu agama ke agama lain, melainkan karena seseorang tetap berada di lingkungan agama tempat ia dilahirkan, tetapi melakukan pencarian yang begitu dalam sehingga pemahamannya terhadap Tuhan, nabi, wahyu, dan keselamatan mengalami perubahan mendasar.
Kesaksian rohani Connie Constantia menarik untuk dibaca dalam perspektif seperti itu.
Connie dikenal sebagai mantan artis yang berasal dari lingkungan Kristen di Manado. Dalam berbagai kesaksian yang disampaikannya melalui media publik, ia menceritakan perjalanan spiritualnya, termasuk pengalaman-pengalaman batin yang ia pahami sebagai bagian dari proses pencarian Tuhan. Ia juga menceritakan proses doa, tirakat dan puasa, pengalaman rohani yang kemudian ia coba pahami dan validasi melalui orang-orang yang dianggap memiliki pengetahuan agama.
Yang menarik, dalam kesaksiannya ia tidak menyatakan telah bersyahadat atau berpindah menjadi Muslim. Ia tetap menyebut dirinya Nasrani dan tetap berpegang pada ajaran Yesus sebagai jalan yang ia tempuh untuk mencari keselamatan.
Namun pada saat yang sama, ia menyampaikan penghormatan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan bahkan menceritakan pesan yang menurut pengakuannya ia terima dari Yesus agar menghormati Muhammad, bukan mengejeknya sebagaimana dilakukan sebagian orang Kristen.
Di sinilah kisah tersebut menjadi menarik secara epistemologis.
Persoalannya bukan lagi sekadar:
“Apakah Connie masuk Islam?”
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
“Bagaimana seorang manusia yang lahir dalam suatu tradisi keagamaan melakukan perjalanan mencari kebenaran ketika pengalaman batinnya mulai membawa dirinya melampaui batas pemahaman yang diwarisinya?”
---
1. Titik Pemberangkatan Tidak Dipilih Manusia
Tidak seorang pun memilih tempat kelahirannya.
Seseorang tidak memilih dilahirkan dalam keluarga Muslim, Kristen, Yahudi, Hindu, Buddha, atau tradisi keagamaan lainnya. Ia juga tidak memilih bahasa ibunya, kebudayaannya, lingkungan sosialnya, dan sistem keyakinan yang pertama kali diperkenalkan kepadanya.
Karena itu, agama yang pertama kali diterima seseorang pada umumnya merupakan pemberian keadaan, bukan hasil keputusan epistemologis yang telah matang.
Al-Qur’an memberikan prinsip yang sangat menarik:
«لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ»
“Bagi setiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat, tetapi Dia hendak menguji kalian terhadap apa yang telah diberikan kepada kalian. Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.”
Ayat ini tidak memulai penilaian manusia dari pertanyaan:
“Kamu lahir sebagai apa?”
Yang menjadi perhatian justru:
«فِي مَا آتَاكُمْ»
“Dalam apa yang telah diberikan kepada kalian.”
Dengan demikian, perbedaan titik pemberangkatan manusia merupakan bagian dari medan ujian.
Dalam kerangka yang digunakan dalam tulisan ini, manusia yang sejak lahir menerima risalah Muhammad ﷺ sebagai peta terakhir dapat disebut berada dalam posisi tajrid.
Sementara manusia yang lahir dalam tradisi keagamaan yang berasal dari risalah sebelumnya berada dalam posisi kasbi.
Kasbi bukan istilah untuk menyatakan seseorang lebih rendah.
Kasbi menunjukkan bahwa seseorang memulai perjalanan dengan warisan keagamaan yang harus ia baca, pahami, uji, dan bila perlu luruskan melalui pencarian yang sungguh-sungguh.
---
2. Connie sebagai Contoh Manusia Kasbi
Dalam pengertian tersebut, perjalanan Connie dapat dibaca sebagai contoh konkret manusia kasbi.
Ia tidak memulai pencariannya dari Islam formal.
Ia memulai dari tradisi Nasrani yang diwarisinya.
Namun ia tidak berhenti pada apa yang diterimanya secara turun-temurun.
Ada sesuatu yang mendorongnya melakukan pencarian lebih jauh.
Di sinilah pentingnya membedakan antara menerima agama sebagai identitas dan mencari Tuhan sebagai realitas yang ingin ditemukan.
Seseorang dapat menerima agama dari keluarga melalui proses sosial dan pendidikan.
Tetapi pada suatu titik ia dapat bertanya:
«Apakah yang selama ini saya terima benar-benar menggambarkan Tuhan?»
«Apakah seluruh ajaran yang diwariskan benar-benar berasal dari nabi?»
«Bagaimana saya mencapai keselamatan?»
«Mengapa saya mengalami sesuatu yang tidak dapat dijelaskan oleh pengetahuan agama yang selama ini saya miliki?»
Pertanyaan semacam ini mengubah posisi manusia dari sekadar penerima warisan menjadi pencari kebenaran.
Dan di sinilah konsep kasbi memperoleh makna yang lebih dalam.
---
3. Sam‘, Baṣar, dan Af'idah
Al-Qur’an menyebut tiga perangkat penting manusia:
«إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا»
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS. Al-Isra’ 17:36)
Dalam kerangka epistemologi hakikat, ketiganya dapat dibaca sebagai perangkat yang bekerja dalam proses pencarian manusia.
Sam‘ menerima apa yang disampaikan orang lain.
Baṣar membaca, mengamati dan menemukan fakta dalam kehidupan.
Sedangkan af'idah mengolah apa yang didengar dan dilihat menjadi kesadaran batin.
Karena itu, pencarian kebenaran tidak cukup hanya dengan:
mendengar doktrin dan membaca literatur.
Ada saat ketika manusia harus masuk ke wilayah pengalaman.
Dalam kisah Connie sebagaimana yang ia sampaikan, proses tersebut tampak ketika pencariannya tidak berhenti pada pengetahuan yang diperolehnya dari lingkungan keagamaan.
Ia melakukan doa, tirakat dan puasa. Ia mengalami pengalaman rohani yang kemudian ia pahami sebagai kasyaf.
Dengan demikian, pencariannya melibatkan bukan hanya sam‘ dan baṣar, tetapi juga af'idah.
---
4. Kasyaf Bukan Akhir Pencarian
Di sini terdapat satu aspek yang sangat penting.
Pengalaman rohani tidak otomatis identik dengan kebenaran.
Justru pengalaman tersebut menimbulkan pertanyaan baru:
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa maknanya?
Bagaimana pengalaman itu harus dipahami?
Menurut kisah yang disampaikan Connie, ia tidak berhenti setelah mengalami pengalaman tersebut.
Ia justru berusaha mencari penjelasan.
Ia mendatangi sejumlah pendeta yang dikenalnya untuk mendapatkan validasi dan penjelasan mengenai pengalaman-pengalaman rohaninya.
Namun, menurut kesaksiannya, ia tidak menemukan penjelasan yang mampu memberikan jawaban yang memuaskan terhadap keseluruhan pengalaman tersebut.
Kemudian ia bertemu dengan seorang Muslim yang memahami tasawuf.
Di sinilah terjadi sesuatu yang secara epistemologis sangat menarik.
Pengalaman yang sebelumnya terasa terpisah-pisah mulai mendapatkan kerangka penjelasan.
Menurut pengakuannya, pemahaman tasawuf yang diperolehnya dari orang tersebut mampu menjelaskan banyak hal yang dialaminya sejak awal perjalanan spiritual hingga pengalaman-pengalaman berikutnya.
Dengan demikian, kasyaf bukan titik akhir pengetahuan.
Kasyaf menjadi fenomena yang kemudian harus dibaca.
Urutannya dapat digambarkan secara sederhana:
pengalaman → pertanyaan → pencarian penjelasan → perbandingan → validasi → pemahaman.
Inilah yang membuat kisah tersebut menarik bagi epistemologi hakikat.
---
5. Ketika Pencarian Menembus Batas Identitas
Ada bagian lain dari kesaksian Connie yang lebih menarik lagi.
Ia tidak kemudian mengatakan:
«“Karena saya mendapatkan penjelasan dari seorang Muslim, maka saya harus menjadi Muslim.”»
Ia tetap menyatakan dirinya Nasrani.
Ia tetap memandang dirinya sebagai pengikut ajaran Yesus dan tetap berusaha mencapai keselamatan melalui jalan tersebut.
Namun pencariannya membuatnya memiliki sikap yang berbeda terhadap Nabi Muhammad ﷺ.
Ia justru menyampaikan pesan yang menurut pengakuannya ia terima dari Yesus untuk menghormati Muhammad.
Di sini kita melihat bahwa perjalanan menuju kebenaran tidak selalu identik dengan pergantian label agama.
Yang berubah terlebih dahulu dapat berupa cara seseorang memahami Tuhan dan kebenaran.
Inilah yang perlu dibedakan antara identitas formal dan keadaan hakikat.
Identitas formal menunjukkan seseorang berada dalam komunitas keagamaan tertentu.
Sedangkan hakikat menunjukkan ke mana sebenarnya hidupnya diarahkan.
---
6. “Aku dan Muhammad Menjalankan Misi yang Sama”
Dalam kesaksian Connie sebagaimana yang ia sampaikan, terdapat pula pernyataan bahwa Yesus dan Muhammad menjalankan misi yang sama, serta bahwa Yesus bukan Tuhan melainkan utusan Allah.
Jika pernyataan tersebut dibaca sebagai kesaksian pribadi, ia tentu tidak dapat langsung dijadikan bukti objektif mengenai apa yang secara historis dikatakan Yesus.
Tetapi sebagai fenomena keagamaan kontemporer, pernyataan itu memiliki korespondensi yang menarik dengan struktur Al-Qur’an mengenai kesinambungan risalah para nabi.
Al-Qur’an menyatakan:
«قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَالنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ ۖ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ ۖ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ»
“Katakanlah: Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘qub dan anak cucunya, serta apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka, dan kepada-Nya kami berserah diri.”
(QS. Ali ‘Imran 3:84)
Dalam perspektif ini, Muhammad ﷺ tidak berdiri sebagai pemutus hubungan dengan para nabi sebelumnya.
Ia berada dalam kesinambungan mata rantai kenabian.
---
7. Peta Lama dan Peta Mutakhir
Di sinilah konsep tajrid dan kasbi menemukan bentuk yang lebih konkret.
Muhammad ﷺ membawa risalah terakhir.
Al-Qur’an menyebut wahyu yang dibawanya:
«مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ»
“membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan menjadi muhaymin atasnya.”
(QS. Al-Ma’idah 5:48)
Dalam analogi yang digunakan dalam tulisan ini:
wahyu adalah peta.
kehidupan manusia adalah medan.
Risalah Muhammad ﷺ dapat dipandang sebagai peta mutakhir bagi perjalanan manusia setelah datangnya risalah terakhir.
Sementara tradisi keagamaan sebelumnya adalah peta yang memiliki sejarah lebih tua.
Peta lama tidak berarti seluruh isinya tidak berguna.
Tetapi ketika medan kehidupan berubah dan sejarah perjalanan manusia berkembang, diperlukan peta yang lebih mutakhir untuk melakukan koreksi.
Maka fungsi Muhammad ﷺ bukan sekadar memberikan label agama baru.
Ada fungsi yang lebih substansial:
mengembalikan manusia kepada prinsip tauhid dan meluruskan pemahaman terhadap risalah para nabi sebelumnya.
---
8. Mengapa Connie Tidak Harus Dipahami sebagai “Orang yang Harus Segera Berganti Label”?
Di sinilah kita kembali kepada persoalan keselamatan.
Jika ukuran keselamatan semata-mata adalah label, maka perjalanan Connie menjadi sederhana:
Kristen → menemukan Islam → bersyahadat → selesai.
Tetapi kenyataannya, menurut kesaksiannya, perjalanan tersebut tidak berlangsung seperti itu.
Ia tetap Nasrani.
Ia tetap merasa berjalan melalui jalan Yesus.
Tetapi pencariannya justru menghasilkan penghormatan kepada Muhammad ﷺ dan pemahaman yang semakin menekankan tauhid.
Maka kisah tersebut memberikan sebuah pertanyaan yang lebih mendasar:
«Apakah Allah menilai manusia hanya berdasarkan label yang melekat pada dirinya, atau juga berdasarkan kesungguhan manusia dalam mencari dan mengikuti kebenaran yang telah dibukakan kepadanya?»
QS. Al-Ma’idah 5:48 memberikan kerangka yang sangat menarik:
«فِي مَا آتَاكُمْ»
“dalam apa yang telah diberikan kepada kalian.”
Kemudian:
«فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ»
“maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.”
Dan akhirnya:
«إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا»
“kepada Allah kalian semua kembali.”
Dengan demikian, manusia tidak diperintahkan untuk sibuk menentukan hasil akhir perjalanan orang lain.
Ia diperintahkan berlomba dalam kebaikan.
---
9. Janji bagi Orang yang Bersungguh-sungguh Mencari
Kisah Connie juga dapat ditempatkan berdampingan dengan QS. Al-‘Ankabut 29:69:
«وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا»
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh mencari Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
Struktur ayat ini sangat menarik:
جَاهَدُوا فِينَا
bersungguh-sungguh mencari Kami,
kemudian:
لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
Kami akan menunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.
Di sini pencarian mendahului terbukanya jalan.
Dalam perspektif tersebut, manusia kasbi tidak perlu dipandang sebagai manusia yang sejak awal telah berada di luar kemungkinan hidayah.
Justru karena ia tidak memperoleh peta mutakhir sejak awal, perjalanan pencariannya dapat menjadi lebih panjang dan lebih kompleks.
Ia harus bertanya.
Ia harus membaca.
Ia harus menguji.
Ia harus mengalami.
Ia harus memilah.
Dan ketika ia sungguh-sungguh mencari Allah, Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah akan menunjukkan subul, jalan-jalan-Nya.
---
10. Pelajaran Terpenting dari Kisah Connie
Kisah Connie tidak perlu dipakai untuk mengatakan bahwa semua agama sama.
Itu bukan kesimpulan yang diperlukan.
Kisah ini juga tidak perlu dipakai untuk membuktikan bahwa setiap pengalaman kasyaf pasti benar.
Itu juga bukan inti persoalannya.
Nilai kisah ini terletak pada sesuatu yang lebih mendasar:
seorang manusia tidak memilih titik pemberangkatannya, tetapi ia dapat memilih untuk mencari.
Ia dapat menerima warisan begitu saja.
Atau ia dapat menggunakan:
sam‘, baṣar dan af'idah.
Ia dapat berhenti pada doktrin yang diwariskan.
Atau ia dapat bertanya kepada Tuhan:
«“Tunjukkan kepadaku kebenaran yang sebenarnya.”»
Ia dapat mempertahankan identitas kelompok dengan menolak segala sesuatu yang datang dari luar.
Atau ia dapat menghormati kebenaran sekalipun kebenaran itu membawanya untuk menghormati seorang nabi yang berada di luar identitas komunitasnya.
Di sinilah kisah Connie menjadi contoh penting bagi konsep kasbi:
«Kasbi bukan sekadar orang yang lahir di luar Islam. Kasbi adalah posisi awal seseorang yang kemudian harus melakukan pencarian untuk menemukan dan memurnikan jalan menuju Allah.»
Sedangkan tajrid adalah keadaan ketika manusia telah memperoleh peta risalah terakhir sebagai bekal awal.
Tetapi keduanya tetap menghadapi ujian yang sama:
«Apa yang dilakukan terhadap apa yang telah diberikan?»
---
11. Dari Label Menuju Hakikat
Pada akhirnya, kisah Connie membawa kita kembali kepada pertanyaan:
Apa sebenarnya Islam?
Jika Islam hanya dipahami sebagai nama komunitas, maka Ibrahim yang hidup jauh sebelum Muhammad ﷺ akan sulit disebut muslim.
Namun Al-Qur’an justru mengatakan:
«وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا»
“Ibrahim adalah seorang yang hanif dan muslim.”
(QS. Ali ‘Imran 3:67)
Karena itu, Islam pada tingkat hakikat tidak pertama-tama berbicara tentang label.
Ia berbicara tentang penyerahan diri kepada Allah.
«إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ»
“Hanya kepada-Mu kami mengabdi dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”
Dan dalam doa iftitah:
«إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ... وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ»
“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tiada sekutu bagi-Nya ... dan dengan demikian aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Dengan ukuran ini, persoalan Islam pada tingkat hakikat kembali kepada substansi:
kepada siapa manusia menyerahkan dirinya, kepada siapa ia mengabdikan hidup dan matinya, apakah ia mempersekutukan Allah, apakah ia mencari kebenaran, dan apakah ia menjalani hidupnya dalam kebaikan.
Maka mungkin saja seseorang belum menjadi Muslim secara formal, tetapi apabila ia sungguh-sungguh menyerahkan diri kepada Allah dan berjalan menuju-Nya, maka pada hakikatnya ia sudah Muslim.
Dan sebaliknya, seseorang dapat menyandang label Muslim secara formal, tetapi label itu belum otomatis menunjukkan bahwa ia telah mencapai hakikat Islam.
---
Penutup: Peta Awal Bukan Hasil Akhir
Kasus Connie Constantia menarik bukan karena ia harus ditempatkan ke dalam kotak agama tertentu.
Justru sebaliknya.
Kisah tersebut memperlihatkan bahwa manusia dapat lahir dengan peta tertentu, menjalani kehidupan dalam peta tersebut, kemudian menemukan bahwa pencarian yang sungguh-sungguh menuntutnya membaca kembali apa yang selama ini diterimanya.
Ia dapat menggunakan pendengaran, penglihatan dan hati.
Ia dapat membaca kitab.
Ia dapat mengamati kehidupan.
Ia dapat berdoa.
Ia dapat melakukan laku spiritual.
Ia dapat mengalami sesuatu yang tidak mudah dijelaskan oleh pengetahuan sebelumnya.
Ia kemudian dapat mencari penjelasan, membandingkannya, dan menemukan pemahaman yang lebih koheren.
Semua itu merupakan bagian dari perjalanan.
Karena itu, kasus Connie dapat dibaca sebagai ilustrasi hidup dari firman Allah:
«وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا»
Orang yang sungguh-sungguh mencari Allah tidak berhenti pada peta yang diwarisinya.
Ia berjalan.
Ia mencari.
Ia menguji.
Ia memurnikan.
Dan Allah yang menentukan ke mana jalan itu akhirnya membawanya.
Sebagaimana firman-Nya:
«إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ»
“ Kepada Allah kalian semua kembali. Lalu Dia akan menjelaskan kepada kalian apa yang dahulu kalian perselisihkan.”
Maka tugas manusia bukan memastikan label orang lain.
Tugas manusia adalah bersungguh-sungguh menempuh jalan kebenarannya sendiri dengan seluruh perangkat yang telah Allah berikan kepadanya.
Sebab pada akhirnya, semua peta akan berhadapan dengan medan yang sebenarnya. Dan semua perjalanan akan kembali kepada Rabb.
Komentar
Posting Komentar