Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

TUHAN DALAM AL-QUR'AN : Allah, Rabb al-'Ālamīn, dan Universalitas Tuhan Lintas Budaya

By. Hamba Sejati  Pendahuluan Ketika orang Indonesia membaca Al-Qur'an, ada satu kata yang hampir selalu dipertahankan dalam bentuk aslinya : > الله — Allah Terjemahan Al-Qur'an biasanya tidak menerjemahkannya menjadi “Tuhan”, melainkan mempertahankan lafaz Arab tersebut. Kebiasaan ini tentu mempunyai alasan historis dan teologis. Namun ada sebuah pertanyaan yang menarik : > Apakah “Allah” harus dipahami sebagai nama pribadi Tuhan yang hanya boleh disebut dengan lafaz Arab tersebut? Atau mungkinkah kita memahaminya secara lebih universal : > Allah adalah sebutan bahasa Arab bagi Tuhan, sedangkan bangsa-bangsa lain dapat menyebut Tuhan dengan bahasa mereka sendiri? Pertanyaan ini bukan sesuatu yang sama sekali baru dalam pemikiran Islam Indonesia. Nurcholish Madjid pernah menjelaskan bahwa Allah merupakan sebutan dalam bahasa Arab untuk konsep Wujud Yang Mahatinggi, the Supreme Being.   Gagasan ini membuka jalan untuk membaca Al-Qur'an bukan sebagai kitab yang mempe...

Genesis Historis dan Kritik Logika terhadap Doktrin Tritunggal : Tinjauan Helenisasi pada Konsili Abad Ke-4 dan Implikasi Metafisikanya

By. Hamba Sejati  Abstrak   Artikel ini menganalisis perkembangan doktrin Tritunggal dari sudut pandang sejarah pemikiran dan logika formal. Penelitian ini bertujuan untuk melacak akar historis kodifikasi Tritunggal yang mengalami pergeseran dari monoteisme Semitik awal menuju metafisika Neoplatonisme pada Konsili Nikaia (325 M) dan Konstantinopel (381 M). Selanjutnya, artikel ini membedah kelemahan ontologis dan kontradiksi internal yang timbul ketika sifat-sifat Ilahi yang tak terbatas (infinite) dipaksakan menyatu dengan entitas fana (finite). Melalui pendekatan rasionalisme teologis, ditemukan bahwa doktrin Tritunggal merupakan konstruksi filosofis Hellenistik yang mengalami kebuntuan logika (logical deadlock) ketika diuji dengan Hukum Non-Kontradiksi. Kata Kunci  : Tritunggal, Helenisasi, Neoplatonisme, Konsili Nikaia, Hukum Non-Kontradiksi, Tajalli, Inkarnasi. 1. Pendahuluan Dalam kajian teologi komparatif dan sejarah dogma, perumusan doktrin Tritunggal (Trinitas) m...

KETIKA AL-FATIHAH DIBACA SECARA HAKIKAT

By. Hamba Sejati Pendahuluan Ketika Al-Fatihah Dibaca dengan Mata Batin Bagi kebanyakan kaum Muslimin, Al-Fatihah adalah surah pembuka. Ia dibaca dalam setiap rakaat salat, dihafalkan sejak masa kanak-kanak, dan menjadi pintu masuk bagi seluruh bangunan Al-Qur'an. Namun bagi para pencari hakikat, Al-Fatihah bukan sekadar pembuka kitab. Ia adalah ringkasan seluruh perjalanan keberadaan. Ia bukan hanya berbicara tentang Tuhan. Ia bukan hanya berbicara tentang ibadah. Ia juga berbicara tentang dari mana manusia berasal, bagaimana ia diturunkan ke alam dunia, apa yang tersembunyi di dalam dirinya, dan ke mana akhirnya ia harus kembali. Karena itu Al-Fatihah dapat dibaca dalam dua lapisan. Lapisan pertama adalah lapisan syariat, yaitu makna lahiriah yang menjadi petunjuk bagi seluruh umat. Lapisan kedua adalah lapisan hakikat, yaitu makna batin yang tersingkap ketika ayat-ayatnya dibaca sebagai peta perjalanan kesadaran. Dalam pembacaan hakikat ini, tujuh ayat Al-Fatihah membentuk suatu...

EMPAT PILAR PENGETAHUAN HAKIKAT : Dari Mengenal Sumber Kehidupan Hingga Menjadi Rahmat bagi Kehidupan

By. Hamba Sejati  PENDAHULUAN Ada satu kenyataan yang jarang disadari manusia. Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki, belum tentu semakin dekat ia kepada kebenaran. Semakin banyak kitab yang dibaca, belum tentu semakin mengenal dirinya. Semakin kuat keyakinan yang dipegang, belum tentu semakin dekat kepada Tuhan. Bahkan tidak sedikit manusia yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mempelajari berbagai hal, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mengenal siapa yang hidup di dalam dirinya sendiri. Di sinilah letak perbedaan antara pengetahuan dan hakikat. Pengetahuan berbicara tentang sesuatu. Hakikat berbicara tentang sumber dari sesuatu. Pengetahuan dapat memenuhi pikiran. Hakikat mengubah kesadaran. Pengetahuan dapat dipindahkan melalui kata-kata. Hakikat sering kali hanya dapat dipahami melalui pengalaman batin yang mendalam. Karena itu para pencari hakikat sepanjang zaman selalu memulai perjalanan mereka bukan dengan bertanya: «Apa yang harus aku ketahui?» Melainkan: « Siapakah...