EMPAT PILAR PENGETAHUAN HAKIKAT : Dari Mengenal Sumber Kehidupan Hingga Menjadi Rahmat bagi Kehidupan
By. Hamba Sejati
PENDAHULUAN
Ada satu kenyataan yang jarang disadari manusia.
Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki, belum tentu semakin dekat ia kepada kebenaran.
Semakin banyak kitab yang dibaca, belum tentu semakin mengenal dirinya.
Semakin kuat keyakinan yang dipegang, belum tentu semakin dekat kepada Tuhan.
Bahkan tidak sedikit manusia yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mempelajari berbagai hal, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mengenal siapa yang hidup di dalam dirinya sendiri.
Di sinilah letak perbedaan antara pengetahuan dan hakikat.
Pengetahuan berbicara tentang sesuatu.
Hakikat berbicara tentang sumber dari sesuatu.
Pengetahuan dapat memenuhi pikiran.
Hakikat mengubah kesadaran.
Pengetahuan dapat dipindahkan melalui kata-kata.
Hakikat sering kali hanya dapat dipahami melalui pengalaman batin yang mendalam.
Karena itu para pencari hakikat sepanjang zaman selalu memulai perjalanan mereka bukan dengan bertanya:
«Apa yang harus aku ketahui?»
Melainkan:
«Siapakah aku sebenarnya?»
«Apa yang menghidupkan diriku?»
«Mengapa aku berada di dunia ini?»
«Dari mana kebenaran berasal?»
«Dan bagaimana seharusnya aku menjalani kehidupan?»
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi benih lahirnya empat pilar pengajaran hakikat yang akan dibahas dalam buku ini.
---
Sebuah Pengajaran yang Datang dari Keheningan
Buku ini tidak lahir dari keinginan menyusun sebuah sistem filsafat.
Ia juga tidak lahir dari ambisi untuk menawarkan ajaran baru.
Benihnya justru muncul dari sebuah pengalaman yang sangat sederhana namun mendalam.
Suatu pengajaran yang hadir dalam keheningan.
Bukan melalui ruang kelas.
Bukan melalui perdebatan.
Bukan melalui rangkaian argumentasi yang panjang.
Melainkan melalui pengalaman batin yang menghadirkan pemahaman secara langsung ke dalam kesadaran.
Pengalaman semacam ini tentu tidak dapat dijadikan ukuran bagi orang lain.
Ia tidak dimaksudkan untuk menggantikan wahyu para nabi.
Ia juga tidak dimaksudkan untuk menjadi sumber hukum atau keyakinan baru.
Namun sebagaimana sebuah mimpi dapat meninggalkan kesan yang mengubah arah hidup seseorang, demikian pula pengalaman batin terkadang menghadirkan sudut pandang baru yang membantu seseorang memahami kembali apa yang selama ini telah tersimpan di dalam ajaran agama dan kearifan para leluhur.
Dari pengalaman itulah muncul empat istilah yang kemudian menjadi pusat perenungan :
Urip Sejati.
Sejatine Urip.
Bener Sejati.
Sejatine Bener.
Pada awalnya keempat istilah ini tampak sederhana.
Namun semakin direnungkan, semakin terlihat bahwa di dalamnya tersembunyi sebuah peta perjalanan manusia yang sangat mendalam.
---
Empat Pertanyaan yang Menentukan Arah Hidup
Sesungguhnya seluruh kehidupan manusia dapat diringkas ke dalam empat pertanyaan pokok.
Pertanyaan pertama :
«Siapa yang hidup di dalam diriku?»
Pertanyaan kedua:
«Untuk apa kehidupan ini diberikan?»
Pertanyaan ketiga :
«Dari mana kebenaran berasal ?»
Pertanyaan keempat :
«Bagaimana kebenaran itu diwujudkan dalam kehidupan?»
Empat pertanyaan inilah yang menjadi kerangka utama buku ini.
Urip Sejati berusaha menjawab pertanyaan pertama.
Sejatine Urip menjawab pertanyaan kedua.
Bener Sejati menjawab pertanyaan ketiga.
Dan Sejatine Bener menjawab pertanyaan keempat.
Keempatnya tidak berdiri sendiri.
Masing-masing merupakan anak tangga yang saling melengkapi.
Seseorang tidak akan memahami tujuan hidup sebelum mengenal sumber kehidupan.
Seseorang tidak akan mampu membedakan kebenaran sebelum memahami tujuan keberadaannya.
Dan seseorang tidak akan mampu mewujudkan kebenaran sebelum terlebih dahulu menemukan sumber kebenaran itu sendiri.
Karena itu keempat pilar ini harus dipahami sebagai satu kesatuan perjalanan.
---
Dari Al-Fatihah Menuju Kehidupan
Dalam proses perenungan yang panjang, penulis menemukan bahwa keempat pilar tersebut memiliki hubungan yang sangat erat dengan struktur batin Surah Al-Fatihah.
Melalui sebuah pembacaan hakikat, Al-Fatihah tampak bukan hanya sebagai doa pembuka Al-Qur'an, tetapi juga sebagai peta perjalanan kesadaran manusia.
Dari Ahadiyah menuju Insan Kamil.
Dari tajalli menuju taraqqi.
Dari asal menuju tujuan.
Dari ruh menuju kesempurnaan manusia.
Dalam kerangka itulah Urip Sejati dipahami sebagai gerbang menuju dimensi ruh.
Sejatine Urip sebagai tugas jiwa dalam menjalankan amanah kehidupan.
Bener Sejati sebagai pengenalan terhadap sumber kebenaran yang melampaui ego manusia.
Dan Sejatine Bener sebagai buah akhir berupa hikmah, kasih sayang, dan pengayoman.
Dengan demikian, buku ini tidak dimaksudkan sebagai pembahasan teologis yang kaku.
Ia lebih dekat kepada sebuah peta perenungan.
Sebuah undangan untuk melihat kehidupan dari sudut yang lebih dalam.
---
Bukan Untuk Dipercaya, Tetapi Untuk Diresapi
Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi dalam dunia spiritual adalah keinginan untuk segera mempercayai atau menolak sesuatu.
Padahal tidak semua hal harus langsung dipercaya.
Dan tidak semua hal harus langsung ditolak.
Ada hal-hal yang perlu direnungkan.
Perlu dihayati.
Perlu diuji dalam kehidupan.
Karena itu buku ini tidak meminta pembaca untuk menerima seluruh isi pembahasannya begitu saja.
Ia hanya mengajak pembaca untuk merenung.
Untuk bertanya.
Untuk mengamati dirinya sendiri.
Untuk melihat apakah apa yang dibahas di dalam buku ini memiliki gema di ruang batinnya.
Sebab hakikat sejati tidak lahir dari pemaksaan.
Hakikat lahir dari penyingkapan.
Dan penyingkapan selalu merupakan pengalaman yang sangat pribadi.
---
Sebuah Undangan untuk Pulang
Pada akhirnya, seluruh pembahasan dalam buku ini bermuara pada satu hal yang sangat sederhana.
Yaitu perjalanan pulang.
Pulang kepada asal kehidupan.
Pulang kepada sumber kebenaran.
Pulang kepada keadaan jiwa yang tenang.
Pulang kepada Tuhan.
Empat pilar yang akan dibahas dalam halaman-halaman berikut bukanlah tujuan akhir.
Ia hanyalah penunjuk jalan.
Lampu-lampu kecil yang diletakkan di sepanjang perjalanan.
Apabila lampu-lampu itu dapat membantu seseorang mengenal dirinya lebih dalam, menjalani hidup dengan lebih bermakna, membedakan kebenaran dengan lebih jernih, dan menghadirkan lebih banyak kasih sayang dalam kehidupannya, maka tujuan penulisan buku ini telah tercapai.
Karena sesungguhnya seluruh perjalanan hakikat, betapapun tinggi istilah yang digunakan untuk menjelaskannya, pada akhirnya hanya mengarah kepada satu tujuan:
Menjadi manusia yang lebih dekat kepada Allah dan lebih bermanfaat bagi sesama.
__________________
BAGIAN I : URIP SEJATI
Menemukan Sang Penghidup di Dalam Diri
Pendahuluan
Ada satu pertanyaan yang sangat sederhana, tetapi hampir tidak pernah dijawab dengan sungguh-sungguh oleh manusia :
«Siapakah yang hidup di dalam diriku?»
Kita mengetahui nama kita.
Kita mengetahui pekerjaan kita.
Kita mengetahui riwayat hidup kita.
Kita mengetahui keluarga, agama, dan kebangsaan kita.
Namun seluruh pengetahuan itu sesungguhnya hanya menjelaskan apa yang melekat pada diri kita, bukan apa yang menghidupkan diri kita.
Ketika seseorang meninggal dunia, hampir seluruh bagian tubuhnya masih ada.
Mata masih ada.
Telinga masih ada.
Otak masih ada.
Jantung masih ada.
Bahkan berat tubuhnya hampir tidak berubah.
Namun ada sesuatu yang telah pergi.
Sesuatu yang tidak terlihat.
Sesuatu yang tidak dapat ditimbang.
Sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindra.
Dan ketika sesuatu itu pergi, seluruh tubuh kehilangan maknanya.
Apakah sesuatu itu ?
Para arif menyebutnya:
«Urip Sejati.»
---
Kesalahan Terbesar Manusia
Kesalahan terbesar manusia bukanlah kemiskinan.
Bukan kebodohan.
Bukan pula kegagalan.
Kesalahan terbesar manusia adalah salah mengenali dirinya sendiri.
Sejak lahir manusia diperkenalkan kepada tubuhnya.
Ia belajar menyebut :
"Tanganku."
"Kakiku."
"Mataku."
Namun hampir tidak pernah diajarkan untuk bertanya :
«Siapakah pemilik tangan itu?»
«Siapakah yang melihat melalui mata itu?»
«Siapakah yang mendengar melalui telinga itu?»
Akibatnya manusia menghabiskan hidup untuk merawat kendaraan sambil melupakan pengendaranya.
Memoles wadah sambil melupakan isi.
Memperindah rumah sambil melupakan penghuninya.
Inilah awal dari seluruh keterasingan manusia.
---
Urip Sejati Bukan Tubuh
Tubuh adalah alat.
Tubuh berubah sejak bayi hingga tua.
Tubuh dapat sakit.
Tubuh dapat kehilangan anggota-anggotanya.
Tubuh dapat rusak.
Namun ada sesuatu dalam diri manusia yang tetap merasa sebagai "aku" meskipun seluruh tubuh mengalami perubahan.
Karena itu tubuh bukanlah Urip Sejati.
Tubuh hanyalah kendaraan yang digunakan Urip Sejati selama berada di alam Ajsam.
---
Urip Sejati Bukan Pikiran
Sebagian orang mengira dirinya adalah pikirannya.
Namun pikiran selalu berubah.
Hari ini yakin.
Besok ragu.
Hari ini paham.
Besok lupa.
Hari ini setuju.
Besok menolak.
Jika pikiran terus berubah, bagaimana mungkin ia menjadi inti keberadaan manusia ?
Pikiran hanyalah alat pengolah pengalaman.
Ia bukan sumber kehidupan.
---
Urip Sejati Adalah Ruh
Dalam pembacaan hakikat, Urip Sejati adalah Ruh.
Bukan ruh dalam pengertian teori.
Bukan ruh sebagai bahan diskusi.
Melainkan ruh sebagai realitas hidup yang menjadi sumber seluruh daya.
Karena itu Al-Qur'an menyatakan :
«"Ruh itu termasuk urusan Tuhanku."»
Min Amri Rabbi.
Ruh bukan bagian dari dunia materi.
Ia bukan produk tubuh.
Ia bukan hasil kerja otak.
Ia berasal dari wilayah yang lebih tinggi daripada seluruh yang dapat dijangkau indera manusia.
Karena itu ruh tidak dapat dipelajari sebagaimana mempelajari benda.
Ia hanya dapat disadari keberadaannya.
Dan lebih jauh lagi, ia hanya dapat dimasuki dimensinya melalui izin Allah.
---
Mengapa Urip Sejati Penting?
Banyak orang bertanya :
Apakah penting memahami ruh?
Pertanyaan ini lahir dari anggapan bahwa tujuan hidup hanyalah menjadi manusia baik.
Padahal seluruh perjalanan hakikat bermula dari sini.
Sebab ruh bukan sekadar sumber hidup.
Ruh adalah gerbang perjumpaan.
Gerbang liqa'.
Tubuh tidak dapat mengenal Allah.
Pikiran tidak dapat menjangkau Allah.
Yang mampu mengenal dan merindukan Allah adalah ruh.
Karena itu siapa yang belum menemukan Urip Sejati, sesungguhnya belum menemukan pintu perjalanan pulang.
Dan siapa yang belum menemukan pintu perjalanan pulang, akan terus mengira bahwa dunia adalah tujuan akhir.
Padahal dunia hanyalah tempat persinggahan.
---
Urip Sejati dan Nafs Muthmainnah
Namun ada satu rahasia yang sering dilupakan.
Ruh tidak dapat dimasuki oleh sembarang orang.
Ia bukan wilayah yang dapat dibuka oleh kecerdasan.
Ia bukan wilayah yang dapat ditaklukkan oleh hafalan.
Ia bukan wilayah yang dapat dicapai melalui perdebatan.
Dimensi Ruh adalah wilayah izin.
Wilayah kehendak Allah.
Karena itu Al-Qur'an memberikan petunjuk yang sangat halus :
«Wahai jiwa yang tenang.»
«Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.»
Yang dipanggil bukan tubuh.
Bukan akal.
Melainkan jiwa yang telah tenang.
Nafs [ jiwa ] yang telah berserah.
Nafs yang telah berhenti menjadikan dirinya pusat kehidupan.
Ketika jiwa mencapai keadaan inilah pintu-pintu ruh mulai terbuka.
Dan ketika pintu itu terbuka, manusia mulai memahami bahwa seluruh hidupnya selama ini hanyalah perjalanan pulang menuju sumber yang sejak awal selalu hadir di dalam dirinya.
---
Penutup Bab
Urip Sejati bukan tujuan akhir.
Ia adalah pintu.
Pintu pertama.
Pintu yang harus ditemukan sebelum seseorang dapat memahami mengapa ia hidup, bagaimana ia harus hidup, dan bagaimana membedakan kebenaran yang berasal dari Tuhan dengan kebenaran yang hanya berasal dari ego.
Karena itu seluruh perjalanan hakikat dimulai dari satu langkah yang sederhana :
Berhenti mencari ke luar.
Dan mulai menyadari Sang Penghidup yang selama ini telah hidup di dalam diri.
_____________________
Bagaimana Memasuki Dimensi Ruh?
Setelah mendengar bahwa Urip Sejati adalah Ruh, biasanya muncul pertanyaan berikutnya :
«Bagaimana cara memasuki dimensi ruh?»
Pertanyaan ini sangat penting.
Namun sebelum menjawabnya, ada satu kesalahpahaman yang harus diluruskan terlebih dahulu.
Banyak orang mengira bahwa perjalanan ruhani adalah perjalanan untuk mengetahui sesuatu.
Mereka mengumpulkan kitab.
Menghafal istilah.
Mempelajari berbagai teori.
Berpindah dari satu guru ke guru yang lain.
Dari satu tarekat ke tarekat yang lain.
Dari satu buku ke buku yang lain.
Seolah-olah ruh dapat ditemukan melalui penambahan informasi.
Padahal persoalannya bukan kekurangan pengetahuan.
Persoalannya adalah terlalu banyak hijab.
Bukan karena cahaya tidak ada.
Melainkan karena jendelanya tertutup.
Karena itu jalan menuju ruh bukan terutama jalan belajar.
Melainkan jalan membersihkan.
Bukan jalan menambah.
Melainkan jalan mengurangi.
Mengurangi kebisingan.
Mengurangi kesombongan.
Mengurangi keterikatan.
Mengurangi keakuan.
Sebab yang menghalangi manusia dari ruh bukan ketidaktahuan.
Melainkan dirinya sendiri.
---
Ruh Tidak Dapat Dicapai Oleh Akal
Al-Qur'an telah memberikan batas yang sangat jelas :
«Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah : Ruh itu termasuk urusan Tuhanku.»
Ruh berada dalam wilayah Amr.
Wilayah yang melampaui jangkauan akal.
Karena itu akal dapat berbicara tentang ruh.
Tetapi akal tidak dapat memasuki dimensinya.
Akal dapat membuat definisi.
Tetapi tidak dapat menghadirkan pengalaman masuk kedalam dimensinya.
Akal dapat menunjuk arah.
Tetapi tidak dapat menggantikan perjalanan.
Inilah sebabnya mengapa dua orang dapat membaca ayat yang sama, mempelajari kitab yang sama, bahkan menghafal istilah yang sama, tetapi mengalami kedalaman batin yang sangat berbeda.
Karena pintu ruh tidak dibuka oleh kecerdasan.
Pintu ruh dibuka oleh izin [ biidzni rabbihi ].
---
Mengapa Nafs [ jiwa ] Menjadi Kunci?
Banyak orang berusaha mencapai ruh secara langsung.
Padahal Al-Qur'an justru menunjukkan jalan yang berbeda.
Allah tidak berkata:
"Wahai ruh yang tenang [ Mutmainah ]."
Allah juga tidak berkata:
"Wahai akal yang tenang."
Yang dipanggil adalah:
«Ya ayyatuhan nafsul muthmainnah.»
Wahai jiwa yang tenang.
Mengapa?
Karena jiwa adalah gerbang.
Jiwa berada di antara ruh dan jasad.
Ia dapat menghadap ke atas.
Ia juga dapat menghadap ke bawah.
Ia dapat mengikuti cahaya ruh.
Ia juga dapat mengikuti tarikan hawa nafsu.
Karena itu seluruh perjuangan manusia sesungguhnya berlangsung di wilayah jiwa.
Bukan di wilayah ruh.
Bukan pula di wilayah jasad.
Apabila jiwa menjadi tenang [ kokoh dan stabil ], bersih, dan tunduk kepada kehendak Allah, maka ia menjadi cermin yang bening.
Dan ketika cermin itu bening, cahaya ruh memancar tanpa terhalang.
---
Jalan Pengosongan
Dalam banyak tradisi hakikat, langkah pertama bukan pengisian.
Langkah pertama adalah pengosongan.
Sebab bejana yang penuh tidak dapat menerima air baru.
Manusia modern dipenuhi oleh berbagai lapisan.
Keinginan.
Ketakutan.
Ambisi.
Kemarahan.
Penilaian.
Kebanggaan.
Identitas.
Klaim.
Konsep-konsep pengetahuan yang semakin menjauhkannya dari Tuhan .
Semua ini membentuk dinding yang menghalangi cahaya ruh.
Karena itu para arif lebih banyak berbicara tentang melepaskan daripada memperoleh.
Lebih banyak berbicara tentang memurnikan daripada menambahkan.
Lebih banyak berbicara tentang mati sebelum mati daripada memperkuat ego.
Semakin tipis lapisan-lapisan tersebut, semakin mudah jiwa merasakan kehadiran ruh.
Bagan Langkah :
Nafsu Amaroh [ Impuls impuls Biologis Jasad ] ---> Nafsu Lawwamah [ impuls impuls yang bersifat Psikologis ] ---> Nafsu Mutmainah [ jiwa yang telah bisa melepas segala bentuk keterikatan dan kemelekatan, baik impuls biologis maupun psikologis, berpasrah ] ---> Dimensi Ruh [ irjii ila rabbiki rodiyatam Mardiyah, fadhuli fil 'ibadi fahduli jannati ]
---
Tanda Awal Sentuhan Ruh
Bagaimana seseorang mengetahui bahwa ia mulai menyentuh dimensi ruh?
Bukan dengan munculnya kemampuan luar biasa.
Bukan dengan mimpi-mimpi yang menakjubkan.
Bukan dengan pengalaman-pengalaman gaib.
Semua itu bisa terjadi.
Tetapi bukan ukuran utama.
Ukuran yang lebih mendasar justru sangat sederhana.
Ia mulai kehilangan kesenangan untuk menghakimi.
Ia mulai mudah memahami orang lain.
Ia mulai melihat penderitaan di balik kemarahan manusia.
Ia mulai melihat ketidaktahuan di balik kesombongan manusia.
Ia mulai melihat luka di balik kebencian manusia.
Perlahan-lahan rasa memaklumi tumbuh.
Rasa welas asih tumbuh.
Rasa mengayomi tumbuh.
Mengapa ?
Karena sifat Rahman dan Rahim mulai memancar melalui dirinya.
Bukan hasil latihan moral semata.
Melainkan buah dari kedekatan dengan sumber ruh itu sendiri [ warid ].
---
Kelahiran Kedua
Pada titik tertentu, perubahan yang terjadi menjadi begitu mendasar sehingga para arif sering menyebutnya sebagai kelahiran kedua.
Tubuhnya sama.
Namanya sama.
Wajahnya sama.
Tetapi pusat kesadarannya telah berubah.
Dahulu ia hidup dari ego.
Kini ia hidup dari penyerahan.
Dahulu ia sibuk mencari pengakuan.
Kini ia sibuk mencari keridaan.
Dahulu ia ingin menang.
Kini ia ingin memahami.
Dahulu ia ingin dipuji.
Kini ia ingin bermanfaat.
Inilah yang oleh sebagian tradisi disebut lahir kembali.
Bukan karena manusia memperoleh identitas baru.
Melainkan karena manusia mulai hidup dari sumber kesadaran yang baru.
Atau lebih tepatnya, kembali hidup dari sumber yang sejak awal telah ada di dalam dirinya.
---
Ruh Sebagai Gerbang Liqa' [ Perjumpaan Dengan Allah ]
Pada akhirnya, tujuan memasuki dimensi ruh bukanlah memperoleh pengalaman-pengalaman yang luar biasa.
Tujuannya bukan karamah.
Bukan pengetahuan rahasia.
Bukan pula kedudukan spiritual.
Semua itu hanyalah kemungkinan yang bisa terjadi di sepanjang perjalanan.
Tujuan sesungguhnya jauh lebih luhur.
Yaitu menjadikan ruh sebagai gerbang menuju Allah.
Karena ruh berasal dari Amr-Nya.
Maka melalui ruhlah manusia mengenali panggilan pulang.
Melalui ruhlah manusia mengenali kerinduan batinnya yang paling dalam.
Dan melalui ruhlah manusia mulai memahami bahwa seluruh perjalanan hidup ini sesungguhnya adalah perjalanan kembali.
Kembali kepada asal.
Kembali kepada sumber.
Kembali kepada Yang Maha Menghidupkan.
Sang Urip Sejati.
_______________________
BAGIAN II : SEJATINE URIP
Untuk Apa Kehidupan Ini Diberikan ?
Dari Sumber Menuju Tugas
Apabila seseorang telah memahami bahwa di dalam dirinya terdapat Urip Sejati, maka cepat atau lambat akan muncul pertanyaan berikutnya :
«Untuk apa kehidupan ini diberikan?»
Inilah pertanyaan yang melahirkan pilar kedua.
Sebab mengenali sumber kehidupan belum otomatis membuat seseorang memahami tujuan kehidupan.
Seseorang dapat mengetahui bahwa dirinya memiliki ruh, tetapi tetap hidup hanya untuk mengejar dunia.
Seseorang dapat berbicara tentang hakikat, tetapi tetap diperbudak oleh kepentingan dirinya sendiri.
Seseorang dapat memahami banyak pengetahuan spiritual, tetapi belum tentu mengetahui mengapa ia diciptakan.
Karena itu setelah Urip Sejati ditemukan, pencarian berikutnya adalah Sejatine Urip.
Yaitu hakikat dari menjalani kehidupan itu sendiri.
---
Mengapa Kita Diturunkan ke Alam Ajsam?
Dalam pembacaan hakikat, kehidupan dunia bukanlah tempat asal manusia.
Ia adalah tempat penugasan.
Tempat pendidikan.
Tempat pengujian.
Tempat penyempurnaan.
Karena itu dunia tidak pernah dimaksudkan menjadi tujuan akhir.
Dunia adalah madrasah.
Dunia adalah ladang.
Dunia adalah jembatan.
Bukan rumah yang abadi.
Manusia diturunkan ke alam Ajsam bukan untuk menetap selamanya.
Sebagaimana seorang musafir singgah di sebuah penginapan, demikian pula jiwa singgah di dunia.
Ia datang membawa amanah.
Dan suatu hari akan dipanggil kembali untuk mempertanggungjawabkan amanah tersebut.
Karena itu pertanyaan yang paling penting bukan :
«Berapa lama aku hidup?»
Melainkan:
«Mengapa dan Untuk apa aku hidup?»
---
Jiwa : Sejatinya Diri Manusia
Dalam peta martabat yang telah kita bahas sebelumnya, Sejatine Urip berkaitan dengan martabat Mitsal.
Mengapa ?
Karena Mitsal merupakan wilayah jiwa.
Wilayah kesadaran diri.
Wilayah tempat manusia berkata :
«Aku memilih.»
«Aku mencintai.»
«Aku membenci.»
«Aku mengabdi.»
«Aku menolak.»
Ruh memberikan kehidupan.
Tetapi jiwalah yang menentukan arah kehidupan itu.
Karena itu dalam Al-Fatihah martabat Mitsal dilambangkan oleh ayat :
«Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in.»
Hanya kepada-Mu kami mengabdi.
Dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.
Ayat ini sesungguhnya adalah deklarasi tujuan keberadaan manusia.
Bukan sekadar ucapan dalam bacaan salat.
Bukan sekadar doa.
Melainkan pernyataan identitas terdalam manusia.
Bahwa hidup ini pada hakikatnya diberikan sebagai sarana, jalan dan kesempatan untuk melakukan pengabdian kepada Tuhan.
---
Pengabdian Sebagai Hakikat Kehidupan
Kata "mengabdi" sering disalahpahami.
Sebagian orang membayangkannya sebagai kumpulan ritual.
Sebagian lagi memahaminya sebagai kewajiban agama semata.
Padahal dalam makna yang lebih dalam, pengabdian adalah orientasi hidup.
Pengabdian berarti menjadikan Allah sebagai pusat.
Bukan ego.
Bukan hawa nafsu.
Bukan ambisi.
Bukan ketakutan.
Bukan kepentingan kelompok.
Selama manusia masih menjadikan dirinya pusat kehidupan, sesungguhnya ia belum memahami Sejatine Urip.
Karena hakikat hidup bukanlah mempertahankan aku.
Hakikat hidup adalah mengembalikan segala sesuatu kepada Yang Maha Ada.
Di sinilah makna terdalam dari :
«Iyyaka Na'budu.»
---
Amanah Kekhalifahan
Sejatine Urip tidak berhenti pada hubungan vertikal dengan Allah.
Ia juga menjelma dalam hubungan horizontal dengan sesama makhluk.
Manusia bukan hanya hamba.
Manusia juga khalifah.
Bukan khalifah dalam arti penguasa.
Melainkan pemegang amanah.
Penjaga keseimbangan.
Penanggung jawab.
Karena itu setiap kemampuan yang dimiliki manusia sesungguhnya adalah titipan.
Ilmu adalah titipan.
Kekayaan adalah titipan.
Kedudukan adalah titipan.
Kesehatan adalah titipan.
Bahkan umur sekalipun adalah titipan.
Dan setiap titipan akan ditanyakan kembali.
Bukan berapa banyak yang dimiliki.
Tetapi bagaimana ia digunakan.
---
Tanda Orang yang Menemukan Sejatine Urip
Bagaimana mengetahui bahwa seseorang mulai memahami Sejatine Urip?
Bukan dari banyaknya pengetahuan yang ia kuasai.
Bukan dari banyaknya pengalaman spiritual yang ia ceritakan.
Bukan dari banyaknya pengikut yang ia miliki.
Tandanya justru tampak dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mulai merasa bertanggung jawab terhadap keberadaan orang lain.
Ia tidak lagi hidup hanya untuk dirinya sendiri.
Ia mulai melihat penderitaan sesama sebagai panggilan.
Ia mulai melihat keberhasilannya sebagai amanah.
Ia mulai melihat hidup sebagai kesempatan untuk melayani.
Dalam tradisi Jawa, keadaan ini sering digambarkan sebagai:
«Menjadi bapak bagi sesama.»
Bukan dalam arti biologis.
Melainkan dalam arti batin.
Mengayomi.
Melindungi.
Menuntun.
Memaklumi.
Merangkul.
Karena semakin dekat seseorang kepada sumber kehidupan, semakin luas pula kasih sayangnya kepada kehidupan.
---
Dari Aku Menuju Kita
Salah satu tanda paling jelas dari lahirnya Sejatine Urip adalah berubahnya pusat kesadaran.
Ketika manusia masih dikuasai ego, seluruh hidupnya berputar di sekitar kata :
«Aku.»
Aku ingin.
Aku butuh.
Aku benar.
Aku lebih tahu.
Aku lebih penting.
Namun ketika Sejatine Urip mulai tumbuh, pusat kehidupan bergeser.
Kata "aku" perlahan berubah menjadi :
«Kita.»
Kesejahteraan bersama menjadi penting.
Kedamaian bersama menjadi penting.
Kebahagiaan orang lain menjadi penting.
Mengapa?
Karena jiwa mulai melihat bahwa seluruh makhluk berasal dari sumber yang sama.
Dan siapa yang melihat asal yang sama akan sulit membangun tembok pemisah yang terlalu tinggi.
---
Sejatine Urip dan Rahman-Rahim
Pada akhirnya, Sejatine Urip tidak dapat dipisahkan dari sifat Rahman dan Rahim.
Sebab apabila Urip Sejati adalah ruh yang membawa jejak sumber Ilahi, maka buah pertama dari sentuhan ruh adalah tumbuhnya kasih sayang.
Karena itu seseorang yang mengaku mengenal hakikat tetapi semakin keras, semakin mudah membenci, semakin mudah merendahkan orang lain, patut mempertanyakan kembali sejauh mana ia telah menyentuh sumber tersebut.
Sebab pohon dikenal dari buahnya.
Dan buah dari ruh yang sehat adalah kasih sayang.
Bukan kebencian.
Buah dari kedekatan kepada Allah adalah keluasan hati.
Bukan kesempitan hati.
Buah dari pengabdian adalah pengayoman.
Bukan penghakiman.
Di sinilah Sejatine Urip menemukan bentuk nyatanya.
Bukan pada apa yang diucapkan.
Melainkan pada apa yang dipancarkan ke dalam kehidupan.
---
Sintesis
Urip Sejati menjawab pertanyaan :
«Siapa yang hidup di dalam diriku?»
Jawabannya adalah ruh.
Sejatine Urip menjawab pertanyaan :
«Untuk apa kehidupan itu diberikan?»
Jawabannya adalah pengabdian dan amanah kekhalifahan.
Karena itu seseorang yang telah menemukan Urip Sejati tetapi belum melahirkan Sejatine Urip masih berada di tengah jalan.
Ia telah menemukan sumber.
Tetapi belum memahami tujuan.
Ia telah menemukan mata air.
Tetapi belum mengalirkannya ke ladang kehidupan.
Dan justru dari sinilah perjalanan memasuki pilar ketiga dimulai.
Karena ketika seseorang mulai menjalani hidup sebagai hamba dan khalifah, muncul pertanyaan yang lebih halus dan lebih sulit :
«Bagaimana membedakan antara kebenaran yang berasal dari Allah dan kebenaran yang hanya berasal dari ego manusia?»
Pertanyaan inilah yang akan membawa kita kepada pilar ketiga :
Bener Sejati.
________________________
BAGIAN III : BENER SEJATI
Membedakan Cahaya dari Bayangannya
Pendahuluan
Setelah seseorang mulai memahami Urip Sejati dan berusaha melakoni Sejatine Urip, muncul satu persoalan yang jauh lebih rumit.
Persoalan ini telah menjadi sumber pertikaian manusia sejak awal sejarah.
Yaitu persoalan kebenaran.
Setiap orang merasa benar.
Setiap kelompok merasa benar.
Setiap mazhab merasa benar.
Setiap agama merasa benar.
Setiap ideologi merasa benar.
Bahkan dua orang yang saling bertentangan sering kali sama-sama yakin bahwa dirinya sedang membela kebenaran.
Jika demikian, bagaimana cara membedakan antara kebenaran yang sungguh berasal dari Al-Haqq dan kebenaran yang sebenarnya hanya berasal dari ego, kepentingan, prasangka, atau keterbatasan manusia?
Pertanyaan inilah yang membawa kita kepada pilar ketiga :
Bener Sejati.
---
Mengapa Kebenaran Menjadi Persoalan?
Pada umumnya manusia mengira bahwa lawan dari kebenaran adalah kebohongan.
Padahal dalam kenyataannya tidak selalu demikian.
Sering kali lawan terbesar dari kebenaran bukanlah kebohongan.
Melainkan kebenaran yang belum utuh.
Kebenaran yang bercampur kepentingan.
Kebenaran yang telah dibelokkan oleh ego.
Kebenaran yang hanya melihat sebagian tetapi mengaku melihat keseluruhan.
Di sinilah letak bahaya yang sesungguhnya.
Karena kebohongan mudah dikenali.
Tetapi kebenaran yang bercampur ilusi jauh lebih sulit dibedakan.
Ia tampak benar.
Terdengar benar.
Bahkan sering didukung oleh dalil yang benar.
Namun arah yang dituju tidak lagi murni.
Karena itu para arif tidak hanya mencari kebenaran.
Mereka mencari sumber kebenaran.
---
Bener Sejati dan Martabat Wahidiyah
Dalam peta yang telah kita bangun, Bener Sejati berhubungan dengan martabat Wahidiyah.
Mengapa bukan Ajsam?
Mengapa bukan Mitsal?
Mengapa bukan Ruh?
Karena Wahidiyah adalah alam Asma.
Alam Sirr.
Alam perbendaharaan ilmu Allah.
Alam tempat seluruh nama dan makna berada dalam keluasan yang tak terbatas.
Dalam pembacaan hakikat, ayat yang melambangkan martabat ini adalah :
«Ar-Rahman Ar-Rahim.»
Pada tingkat lahiriah, manusia melihat dua nama.
Tetapi pada tingkat hakikat, kedua nama ini menjadi pintu menuju seluruh Asma Ilahiyah.
Dan dari sinilah lahir pemahaman bahwa seluruh pengetahuan yang benar pada hakikatnya berasal dari Allah.
Bukan dari manusia.
Manusia hanya menerima.
Bukan menciptakan.
Manusia hanya menemukan.
Bukan memiliki.
Karena itu semakin dekat seseorang kepada sumber pengetahuan, semakin kecil kecenderungannya untuk mengklaim dirinya sebagai pemilik kebenaran.
---
Adam dan Asmaa Kullaha
Al-Qur'an menyampaikan satu peristiwa yang sangat penting:
«Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semuanya.»
Wa 'allama Adama al-asmaa'a kullaha.
Ayat ini sering dibaca sekadar sebagai kisah penciptaan manusia.
Padahal bagi para pencari hakikat, ia mengandung rahasia yang sangat besar.
Mengapa manusia memiliki kemampuan mengenali makna?
Mengapa manusia dapat memahami simbol?
Mengapa manusia mampu menangkap pengetahuan?
Karena di dalam dirinya terdapat jejak dari alam Asma.
Jejak dari Wahidiyah.
Karena itu setiap kali manusia menemukan suatu kebenaran yang sejati, sesungguhnya ia sedang mengingat kembali sesuatu yang berasal dari sumber yang lebih tinggi daripada dirinya sendiri.
Ia bukan menciptakan cahaya.
Ia hanya tersingkap dari tabir yang menutupinya.
---
Bahaya Merasa Paling Benar
Salah satu paradoks terbesar dalam perjalanan spiritual adalah ini :
Semakin dekat seseorang kepada Bener Sejati, semakin sulit ia merasa dirinya paling benar.
Mengapa?
Karena ia mulai menyadari betapa luasnya lautan kebenaran dibandingkan dengan kemampuan dirinya untuk memahami.
Ia mulai melihat bahwa setiap manusia berdiri pada sudut pandang yang berbeda.
Latar belakang yang berbeda.
Pengalaman yang berbeda.
Tingkat pemahaman yang berbeda.
Ia tidak lagi terburu-buru menghakimi.
Bukan karena kehilangan prinsip.
Melainkan karena melihat keluasan yang sebelumnya tidak terlihat.
Sebaliknya, semakin sempit pemahaman seseorang, sering kali semakin besar keyakinannya bahwa dirinya telah memahami seluruh kebenaran.
Karena itu para arif lebih banyak bertanya daripada menghakimi.
Lebih banyak mendengar daripada berteriak.
Lebih banyak mencari daripada mengklaim.
---
Kebenaran dan Kepentingan
Mengapa manusia sering gagal melihat kebenaran?
Karena antara dirinya dan kebenaran berdiri berbagai kepentingan.
Kepentingan pribadi.
Kepentingan kelompok.
Kepentingan ekonomi.
Kepentingan politik.
Kepentingan identitas.
Semua ini bekerja seperti kaca berwarna.
Ketika cahaya melewatinya, warna cahaya berubah.
Bukan karena cahayanya berubah.
Melainkan karena mediumnya berubah.
Demikian pula kebenaran.
Kebenaran yang melewati ego akan berwarna ego.
Kebenaran yang melewati kebencian akan berwarna kebencian.
Kebenaran yang melewati ambisi akan berwarna ambisi.
Karena itu pekerjaan terbesar seorang pencari hakikat bukan mencari kebenaran baru.
Melainkan membersihkan cermin dirinya agar mampu memantulkan kebenaran dengan lebih jernih.
---
Mengapa Bener Sejati Tidak Berisik?
Ada satu ciri menarik dari Bener Sejati.
Ia tidak membutuhkan kegaduhan.
Ia tidak memerlukan teriakan.
Ia tidak memerlukan pembuktian yang terus-menerus.
Mengapa?
Karena kebenaran tidak bergantung pada pengakuan manusia.
Matahari tetap bersinar walaupun ada orang yang menutup matanya.
Demikian pula kebenaran.
Ia tidak menjadi lebih benar karena dipuji.
Dan tidak menjadi lebih salah karena ditolak.
Ketika seseorang mulai menyentuh Bener Sejati, ia perlahan terbebas dari kebutuhan untuk selalu menang dalam perdebatan.
Ia lebih tertarik memahami daripada mengalahkan.
Lebih tertarik menerangi daripada membantah.
Lebih tertarik menyembuhkan daripada mempermalukan.
Karena ia mulai menyadari bahwa tujuan kebenaran bukan kemenangan ego.
Tujuan kebenaran adalah penyingkapan.
---
Bener Sejati dan Rasa
Dalam tradisi hakikat, terdapat pemahaman bahwa ada wilayah pengetahuan yang tidak dapat dijangkau hanya melalui logika.
Bukan berarti bertentangan dengan logika.
Tetapi melampaui batas logika.
Sebagaimana seseorang tidak dapat memahami manisnya madu hanya dengan membaca rumus kimianya.
Ia harus merasakannya.
Demikian pula sebagian aspek kebenaran.
Ada yang dapat dipelajari.
Ada yang harus dialami.
Karena itu para arif sering berbicara tentang rasa.
Bukan rasa sebagai emosi.
Tetapi rasa sebagai kemampuan batin untuk menangkap makna yang lebih dalam daripada sekadar kata-kata.
Namun rasa yang dimaksud bukan perasaan liar yang tidak terkendali.
Ia adalah rasa yang telah dimurnikan.
Rasa yang telah dibersihkan oleh pengabdian.
Rasa yang telah diterangi oleh ruh.
Rasa yang telah dilembutkan oleh kasih sayang.
---
Sintesis
Bener Sejati adalah kebenaran yang bersumber dari Al-Haqq.
Ia bukan produk ego.
Bukan hasil kepentingan.
Bukan milik kelompok tertentu.
Ia berasal dari sumber yang sama yang mengajarkan Adam asmaa kullaha.
Karena itu semakin dekat seseorang kepada Bener Sejati, semakin luas pula hatinya.
Semakin kecil keinginannya untuk mengklaim.
Semakin besar kemampuannya untuk memahami.
Namun perjalanan belum selesai.
Sebab mengetahui kebenaran tidak otomatis berarti mampu mewujudkannya.
Banyak orang mengetahui apa yang benar.
Tetapi gagal menghadirkannya dalam kehidupan.
Banyak orang memiliki pengetahuan.
Tetapi tidak memiliki hikmah.
Banyak orang memiliki dalil.
Tetapi tidak memiliki kasih sayang.
Karena itu puncak perjalanan bukanlah Bener Sejati.
Puncaknya adalah ketika kebenaran menjelma menjadi kebijaksanaan, pengayoman, dan kemaslahatan.
Di sinilah kita memasuki pilar keempat :
Sejatine Bener.
____________________________
BAGIAN IV : SEJATINE BENER
Ketika Kebenaran Menjelma Menjadi Hikmah
Pendahuluan
Apabila Urip Sejati berbicara tentang sumber kehidupan,
dan Sejatine Urip berbicara tentang tujuan kehidupan,
serta Bener Sejati berbicara tentang sumber kebenaran,
maka Sejatine Bener berbicara tentang sesuatu yang lebih halus lagi.
Yaitu:
«Bagaimana kebenaran itu hadir di dunia?»
Karena mengetahui kebenaran tidaklah sama dengan mewujudkan kebenaran.
Memiliki ilmu tidak sama dengan memiliki hikmah.
Memiliki dalil tidak sama dengan memiliki kebijaksanaan.
Memiliki argumen tidak sama dengan memiliki keluasan hati.
Banyak orang mengetahui kebenaran.
Tetapi menggunakan kebenaran untuk melukai.
Banyak orang memahami agama.
Tetapi menggunakan agama untuk merendahkan.
Banyak orang menguasai ilmu.
Tetapi menggunakan ilmu untuk meninggikan dirinya.
Karena itu para arif membedakan antara :
Bener Sejati
dan
Sejatine Bener.
Yang satu adalah sumber cahaya.
Yang lain adalah pancaran cahaya.
Yang satu adalah mata air.
Yang lain adalah sungai yang menghidupi kehidupan.
---
Mengapa Sejatine Bener Berhubungan dengan Insan Kamil?
Dalam peta yang telah kita bangun, Sejatine Bener berhubungan dengan martabat Insan Kamil.
Mengapa?
Karena Insan Kamil adalah buah.
Puncak.
Tujuan.
Kesempurnaan perjalanan.
Ia bukan lagi berbicara tentang apa yang diketahui manusia.
Melainkan tentang apa yang telah menjadi dirinya.
Pada tahap ini pengetahuan tidak lagi berada di kepala.
Ia telah turun ke hati.
Turun ke sikap.
Turun ke perilaku.
Turun ke cara memandang sesama manusia.
Karena itu ayat yang menjadi lambangnya adalah :
«Shirathalladzina An'amta Alaihim.»
Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.
Kata yang menjadi pusat perhatian adalah :
«An'amta.»
Engkau telah memberi nikmat.
Nikmat apakah yang dimaksud?
Dalam pembacaan hakikat, nikmat terbesar bukanlah kekayaan.
Bukan pula kekuasaan.
Bukan pula kedudukan.
Melainkan keberhasilan menempuh perjalanan kembali kepada Allah tanpa kehilangan kemanusiaannya.
---
Dari Pengetahuan Menjadi Keadaan
Pada tahap awal perjalanan, manusia mencari pengetahuan.
Ia ingin mengetahui.
Ia ingin memahami.
Ia ingin menemukan jawaban.
Itu penting.
Tetapi ada batas yang tidak dapat dilampaui oleh pengetahuan.
Karena pengetahuan masih dapat disimpan.
Masih dapat dipamerkan.
Masih dapat dijadikan identitas.
Sedangkan Sejatine Bener bukan lagi pengetahuan.
Ia adalah keadaan.
Seseorang yang telah mencapai keadaan ini tidak perlu berusaha terlihat bijaksana.
Kebijaksanaan memancar dengan sendirinya.
Ia tidak perlu berusaha terlihat rendah hati.
Kerendahan hati hadir secara alami.
Ia tidak perlu berusaha terlihat penuh kasih.
Kasih sayang menjadi wataknya.
Karena apa yang dahulu dipelajari kini telah menjadi dirinya.
---
Bener Tur Pener
Para leluhur Jawa memiliki satu ungkapan yang sangat dalam:
«Bener tur pener.»
Benar dan tepat.
Karena sesuatu yang benar belum tentu tepat.
Kata yang benar dapat diucapkan pada waktu yang salah.
Nasihat yang benar dapat diberikan dengan cara yang salah.
Teguran yang benar dapat disampaikan dengan hati yang salah.
Akibatnya, kebenaran yang seharusnya menyembuhkan justru melukai.
Kebenaran yang seharusnya menerangi justru membakar.
Karena itu Sejatine Bener bukan hanya soal isi.
Tetapi juga cara.
Bukan hanya soal apa yang disampaikan.
Tetapi bagaimana ia disampaikan.
Bukan hanya soal tujuan.
Tetapi juga jalan yang ditempuh.
Inilah wilayah hikmah.
Wilayah yang tidak dapat diperoleh hanya dengan membaca.
Tetapi lahir dari pematangan jiwa.
---
Hilangnya Kebutuhan untuk Menghakimi
Ada satu tanda yang sangat khas ketika seseorang mulai memasuki wilayah Sejatine Bener.
Ia kehilangan selera untuk menghakimi.
Bukan karena ia tidak lagi dapat membedakan benar dan salah.
Justru sebaliknya.
Kemampuannya membedakan sering kali menjadi lebih tajam.
Namun pada saat yang sama ia juga mulai melihat sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat.
Ia melihat luka yang membentuk seseorang.
Ia melihat ketidaktahuan yang melahirkan kesalahan.
Ia melihat ketakutan yang melahirkan kekerasan.
Ia melihat penderitaan yang melahirkan kemarahan.
Akibatnya, cara pandangnya berubah.
Ia tetap dapat mengatakan bahwa sesuatu itu salah.
Tetapi ia tidak lagi membenci pelakunya.
Ia dapat menolak perbuatan yang merusak.
Tetapi tidak kehilangan kasih sayang kepada manusianya.
Di sinilah lahir rasa maklum.
Bukan pembenaran.
Melainkan pemahaman.
---
Menjadi Pengayom
Dalam pembicaraan kita sebelumnya, kita beberapa kali menggunakan istilah :
«Menjadi bapak bagi sesama.»
Ungkapan ini sesungguhnya sangat dekat dengan hakikat Sejatine Bener.
Karena seorang bapak yang baik tidak sibuk membuktikan bahwa dirinya paling benar.
Ia sibuk memastikan bahwa yang berada dalam tanggung jawabnya dapat tumbuh dengan baik.
Ia membimbing.
Ia menjaga.
Ia menguatkan.
Ia mengoreksi ketika perlu.
Tetapi semuanya dilakukan dalam kerangka kasih sayang.
Demikian pula orang yang telah menyentuh Sejatine Bener.
Keberadaannya menghadirkan rasa aman.
Bukan rasa takut.
Kehadirannya menghadirkan keteduhan.
Bukan ketegangan.
Kehadirannya menghadirkan harapan.
Bukan keputusasaan.
Karena kebenaran yang hidup di dalam dirinya telah berubah menjadi pengayoman.
---
Rahman dan Rahim Sebagai Buah Perjalanan
Kini kita dapat kembali kepada titik yang sangat penting.
Pada pembacaan hakikat Al-Fatihah, martabat Wahidiyah dihubungkan dengan:
«Ar-Rahman Ar-Rahim.»
Pada saat itu Rahman dan Rahim hadir sebagai asal.
Sebagai sumber.
Sebagai perbendaharaan sifat Ilahi.
Namun pada martabat Insan Kamil, Rahman dan Rahim hadir kembali dalam bentuk yang berbeda.
Bukan lagi sebagai asal.
Melainkan sebagai buah.
Apa yang dahulu berada di atas kini memancar melalui manusia.
Apa yang dahulu hanya dikenal sebagai nama kini hadir sebagai watak.
Apa yang dahulu dipahami sebagai konsep kini menjelma menjadi kehidupan.
Karena itu puncak perjalanan hakikat bukanlah mengetahui Rahman dan Rahim.
Melainkan menjadi cermin bagi Rahman dan Rahim.
---
Sejatine Bener dan Kelahiran Manusia Baru
Pada tahap ini sesungguhnya telah lahir manusia baru.
Tubuhnya tetap sama.
Namanya tetap sama.
Riwayat hidupnya tetap sama.
Tetapi pusat keberadaannya telah berubah.
Dahulu ia hidup dari ketakutan.
Kini ia hidup dari kepercayaan kepada Allah.
Dahulu ia hidup dari kebutuhan untuk diakui.
Kini ia hidup dari kebutuhan untuk memberi manfaat.
Dahulu ia sibuk mempertahankan dirinya.
Kini ia sibuk melayani kehidupan.
Inilah yang oleh sebagian tradisi spiritual disebut kelahiran kedua.
Bukan perubahan identitas.
Melainkan perubahan pusat kesadaran.
---
Sintesis Akhir
Urip Sejati mengajarkan :
«Siapa yang hidup di dalam diriku?»
Jawabannya adalah ruh yang berasal dari Amr Allah.
Sejatine Urip mengajarkan :
«Untuk apa kehidupan itu diberikan?»
Jawabannya adalah pengabdian dan amanah kekhalifahan.
Bener Sejati mengajarkan :
«Dari mana kebenaran berasal?»
Jawabannya adalah dari Al-Haqq, sumber seluruh pengetahuan dan makna.
Sejatine Bener mengajarkan :
«Apa buah dari pengetahuan tentang kebenaran sejati itu?»
Jawabannya adalah hikmah, kasih sayang, pengayoman, dan kemanfaatan bagi sesama.
Maka empat pilar ini sesungguhnya membentuk satu perjalanan yang utuh.
Ruh melahirkan kesadaran.
Kesadaran melahirkan pengabdian.
Pengabdian melahirkan penyingkapan kebenaran.
Dan kebenaran yang matang melahirkan hikmah.
Pada titik inilah manusia mulai memahami bahwa tujuan akhir perjalanan bukanlah menjadi orang yang paling tahu.
Bukan pula menjadi orang yang paling benar.
Melainkan menjadi manusia yang paling mampu menghadirkan rahmat bagi kehidupan.
Karena pada akhirnya, ukuran tertinggi kedekatan kepada Allah bukanlah banyaknya pengetahuan yang dimiliki.
Melainkan sejauh mana sifat Rahman dan Rahim telah hidup di dalam diri seorang manusia.
Dan ketika hal itu terjadi, perjalanan yang dimulai dari Urip Sejati akhirnya menemukan kesempurnaannya dalam Sejatine Bener.
______________________
BAGIAN IV : SEJATINE BENER
Ketika Kebenaran Menjelma Menjadi Hikmah
Pendahuluan
Apabila Urip Sejati berbicara tentang sumber kehidupan,
dan Sejatine Urip berbicara tentang tujuan kehidupan,
serta Bener Sejati berbicara tentang sumber kebenaran,
maka Sejatine Bener berbicara tentang sesuatu yang lebih halus lagi.
Yaitu :
«Bagaimana kebenaran itu hadir di dunia?»
Karena mengetahui kebenaran tidaklah sama dengan mewujudkan kebenaran.
Memiliki ilmu tidak sama dengan memiliki hikmah.
Memiliki dalil tidak sama dengan memiliki kebijaksanaan.
Memiliki argumen tidak sama dengan memiliki keluasan hati.
Banyak orang mengetahui kebenaran.
Tetapi menggunakan kebenaran untuk melukai.
Banyak orang memahami agama.
Tetapi menggunakan agama untuk merendahkan.
Banyak orang menguasai ilmu.
Tetapi menggunakan ilmu untuk meninggikan dirinya.
Karena itu para arif membedakan antara :
Bener Sejati
dan
Sejatine Bener.
Yang satu adalah sumber cahaya.
Yang lain adalah pancaran cahaya.
Yang satu adalah mata air.
Yang lain adalah sungai yang menghidupi kehidupan.
---
Mengapa Sejatine Bener Berhubungan dengan Insan Kamil?
Dalam peta yang telah kita bangun, Sejatine Bener berhubungan dengan martabat Insan Kamil.
Mengapa?
Karena Insan Kamil adalah buah.
Puncak.
Tujuan.
Kesempurnaan perjalanan.
Ia bukan lagi berbicara tentang apa yang diketahui manusia.
Melainkan tentang apa yang telah menjadi dirinya.
Pada tahap ini pengetahuan tidak lagi berada di kepala.
Ia telah turun ke hati.
Turun ke sikap.
Turun ke perilaku.
Turun ke cara memandang sesama manusia.
Karena itu ayat yang menjadi lambangnya adalah :
«Shirathalladzina An'amta Alaihim.»
Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.
Kata yang menjadi pusat perhatian adalah :
«An'amta.»
Engkau telah memberi nikmat.
Nikmat apakah yang dimaksud?
Dalam pembacaan hakikat, nikmat terbesar bukanlah kekayaan.
Bukan pula kekuasaan.
Bukan pula kedudukan.
Melainkan keberhasilan menempuh perjalanan kembali kepada Allah tanpa kehilangan kemanusiaannya.
---
Dari Pengetahuan Menjadi Keadaan
Pada tahap awal perjalanan, manusia mencari pengetahuan.
Ia ingin mengetahui.
Ia ingin memahami.
Ia ingin menemukan jawaban.
Itu penting.
Tetapi ada batas yang tidak dapat dilampaui oleh pengetahuan.
Karena pengetahuan masih dapat disimpan.
Masih dapat dipamerkan.
Masih dapat dijadikan identitas.
Sedangkan Sejatine Bener bukan lagi pengetahuan.
Ia adalah keadaan.
Seseorang yang telah mencapai keadaan ini tidak perlu berusaha terlihat bijaksana.
Kebijaksanaan memancar dengan sendirinya.
Ia tidak perlu berusaha terlihat rendah hati.
Kerendahan hati hadir secara alami.
Ia tidak perlu berusaha terlihat penuh kasih.
Kasih sayang menjadi wataknya.
Karena apa yang dahulu dipelajari kini telah menjadi dirinya.
---
Bener Tur Pener
Para leluhur Jawa memiliki satu ungkapan yang sangat dalam:
«Bener tur pener.»
Benar dan tepat.
Karena sesuatu yang benar belum tentu tepat.
Kata yang benar dapat diucapkan pada waktu yang salah.
Nasihat yang benar dapat diberikan dengan cara yang salah.
Teguran yang benar dapat disampaikan dengan hati yang salah.
Akibatnya, kebenaran yang seharusnya menyembuhkan justru melukai.
Kebenaran yang seharusnya menerangi justru membakar.
Karena itu Sejatine Bener bukan hanya soal isi.
Tetapi juga cara.
Bukan hanya soal apa yang disampaikan.
Tetapi bagaimana ia disampaikan.
Bukan hanya soal tujuan.
Tetapi juga jalan yang ditempuh.
Inilah wilayah hikmah.
Wilayah yang tidak dapat diperoleh hanya dengan membaca.
Tetapi lahir dari pematangan jiwa.
---
Hilangnya Kebutuhan untuk Menghakimi
Ada satu tanda yang sangat khas ketika seseorang mulai memasuki wilayah Sejatine Bener.
Ia kehilangan selera untuk menghakimi.
Bukan karena ia tidak lagi dapat membedakan benar dan salah.
Justru sebaliknya.
Kemampuannya membedakan sering kali menjadi lebih tajam.
Namun pada saat yang sama ia juga mulai melihat sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat.
Ia melihat luka yang membentuk seseorang.
Ia melihat ketidaktahuan yang melahirkan kesalahan.
Ia melihat ketakutan yang melahirkan kekerasan.
Ia melihat penderitaan yang melahirkan kemarahan.
Akibatnya, cara pandangnya berubah.
Ia tetap dapat mengatakan bahwa sesuatu itu salah.
Tetapi ia tidak lagi membenci pelakunya.
Ia dapat menolak perbuatan yang merusak.
Tetapi tidak kehilangan kasih sayang kepada manusianya.
Di sinilah lahir rasa maklum.
Bukan pembenaran.
Melainkan pemahaman.
---
Menjadi Pengayom
Dalam pembicaraan kita sebelumnya, Anda beberapa kali menggunakan istilah:
«Menjadi bapak bagi sesama.»
Ungkapan ini sesungguhnya sangat dekat dengan hakikat Sejatine Bener.
Karena seorang bapak yang baik tidak sibuk membuktikan bahwa dirinya paling benar.
Ia sibuk memastikan bahwa yang berada dalam tanggung jawabnya dapat tumbuh dengan baik.
Ia membimbing.
Ia menjaga.
Ia menguatkan.
Ia mengoreksi ketika perlu.
Tetapi semuanya dilakukan dalam kerangka kasih sayang.
Demikian pula orang yang telah menyentuh Sejatine Bener.
Keberadaannya menghadirkan rasa aman.
Bukan rasa takut.
Kehadirannya menghadirkan keteduhan.
Bukan ketegangan.
Kehadirannya menghadirkan harapan.
Bukan keputusasaan.
Karena kebenaran yang hidup di dalam dirinya telah berubah menjadi pengayoman.
---
Rahman dan Rahim Sebagai Buah Perjalanan
Kini kita dapat kembali kepada titik yang sangat penting.
Pada pembacaan hakikat Al-Fatihah, martabat Wahidiyah dihubungkan dengan:
«Ar-Rahman Ar-Rahim.»
Pada saat itu Rahman dan Rahim hadir sebagai asal.
Sebagai sumber.
Sebagai perbendaharaan sifat Ilahi.
Namun pada martabat Insan Kamil, Rahman dan Rahim hadir kembali dalam bentuk yang berbeda.
Bukan lagi sebagai asal.
Melainkan sebagai buah.
Apa yang dahulu berada di atas kini memancar melalui manusia.
Apa yang dahulu hanya dikenal sebagai nama kini hadir sebagai watak.
Apa yang dahulu dipahami sebagai konsep kini menjelma menjadi kehidupan.
Karena itu puncak perjalanan hakikat bukanlah mengetahui Rahman dan Rahim.
Melainkan menjadi cermin bagi Rahman dan Rahim.
---
Sejatine Bener dan Kelahiran Manusia Baru
Pada tahap ini sesungguhnya telah lahir manusia baru.
Tubuhnya tetap sama.
Namanya tetap sama.
Riwayat hidupnya tetap sama.
Tetapi pusat keberadaannya telah berubah.
Dahulu ia hidup dari ketakutan.
Kini ia hidup dari kepercayaan kepada Allah.
Dahulu ia hidup dari kebutuhan untuk diakui.
Kini ia hidup dari kebutuhan untuk memberi manfaat.
Dahulu ia sibuk mempertahankan dirinya.
Kini ia sibuk melayani kehidupan.
Inilah yang oleh sebagian tradisi spiritual disebut kelahiran kedua.
Bukan perubahan identitas.
Melainkan perubahan pusat kesadaran.
---
Sintesis Akhir
Urip Sejati mengajarkan:
«Siapa yang hidup di dalam diriku?»
Jawabannya adalah ruh yang berasal dari Amr Allah.
Sejatine Urip mengajarkan:
«Untuk apa kehidupan itu diberikan?»
Jawabannya adalah pengabdian dan amanah kekhalifahan.
Bener Sejati mengajarkan:
«Dari mana kebenaran berasal?»
Jawabannya adalah dari Al-Haqq, sumber seluruh ilmu dan makna.
Sejatine Bener mengajarkan:
«Apa buah dari kebenaran itu?»
Jawabannya adalah hikmah, kasih sayang, pengayoman, dan kemanfaatan bagi sesama.
Maka empat pilar ini sesungguhnya membentuk satu perjalanan yang utuh.
Ruh melahirkan kesadaran.
Kesadaran melahirkan pengabdian.
Pengabdian melahirkan penyingkapan kebenaran.
Dan kebenaran yang matang melahirkan hikmah.
Pada titik inilah manusia mulai memahami bahwa tujuan akhir perjalanan bukanlah menjadi orang yang paling tahu.
Bukan pula menjadi orang yang paling benar.
Melainkan menjadi manusia yang paling mampu menghadirkan rahmat bagi kehidupan.
Karena pada akhirnya, ukuran tertinggi kedekatan kepada Allah bukanlah banyaknya pengetahuan yang dimiliki.
Melainkan sejauh mana sifat Rahman dan Rahim telah hidup di dalam diri seorang manusia.
Dan ketika hal itu terjadi, perjalanan yang dimulai dari Urip Sejati akhirnya menemukan kesempurnaannya dalam Sejatine Bener.
______________________
EPILOG
KEMBALI KEPADA ASAL
Pada akhirnya, setiap perjalanan akan sampai pada satu titik yang sama.
Titik pulang.
Sejauh apa pun manusia mengembara dalam kehidupan, setinggi apa pun ilmu yang berhasil dikumpulkannya, sebanyak apa pun pengalaman yang pernah dilaluinya, pada akhirnya ia akan berhadapan dengan satu pertanyaan yang tidak dapat dihindari:
«Siapakah aku sebenarnya?»
Pertanyaan itu mungkin muncul ketika seseorang masih muda.
Mungkin juga baru muncul ketika usia mulai menua.
Ada yang menemukannya dalam kesunyian malam.
Ada yang menemukannya di tengah penderitaan.
Ada yang menemukannya setelah kehilangan.
Ada pula yang menemukannya ketika seluruh impian duniawi yang dahulu dikejar ternyata tidak mampu mengisi kekosongan yang ada di dalam dada.
Namun apa pun jalan yang dilalui, pertanyaan itu selalu mengantar manusia kepada satu pencarian yang sama:
Pencarian terhadap asal-usul dirinya.
Pencarian terhadap sumber kehidupan.
Pencarian terhadap Tuhan.
---
Empat Pilar Sebagai Satu Perjalanan
Di sepanjang buku ini kita telah menempuh perjalanan melalui empat pilar pengetahuan hakikat.
Kita memulai dari Urip Sejati.
Dari kesadaran bahwa di dalam diri manusia terdapat sesuatu yang lebih dalam daripada tubuh, lebih halus daripada pikiran, dan lebih abadi daripada seluruh identitas yang melekat padanya.
Sesuatu itu adalah ruh.
Rahasia kehidupan.
Tiupan dari wilayah Amr yang membuat manusia mampu melihat, mendengar, memahami, mencintai, dan merindukan.
Kemudian kita melangkah menuju Sejatine Urip.
Di sana kita menemukan bahwa hidup tidak diberikan tanpa tujuan.
Kehidupan bukan sekadar kesempatan untuk menikmati dunia.
Bukan pula sekadar rangkaian peristiwa yang terjadi tanpa makna.
Kehidupan adalah amanah.
Pengabdian.
Perjalanan menjalankan tugas kekhalifahan di bumi.
Setelah itu kita memasuki Bener Sejati.
Kita belajar bahwa tidak semua yang tampak benar berasal dari sumber yang sama.
Ada kebenaran yang lahir dari kejernihan.
Ada pula kebenaran yang telah bercampur dengan kepentingan, ketakutan, dan keakuan.
Karena itu pencarian hakikat bukan hanya pencarian terhadap jawaban.
Tetapi pencarian terhadap sumber dari jawaban itu sendiri.
Dan akhirnya kita sampai kepada Sejatine Bener.
Tempat di mana kebenaran berhenti menjadi sekadar pengetahuan.
Tempat di mana kebenaran menjelma menjadi watak.
Menjadi kebijaksanaan.
Menjadi kasih sayang.
Menjadi pengayoman.
Menjadi manfaat bagi kehidupan.
Empat pilar ini bukanlah empat bangunan yang terpisah.
Ia adalah empat tahap dari satu perjalanan yang sama.
---
Dari Mengetahui Menjadi Mengada
Ada perbedaan besar antara mengetahui dan mengada.
Seseorang dapat mengetahui banyak hal tentang air tanpa pernah meminumnya.
Seseorang dapat memahami teori tentang cinta tanpa pernah mencintai.
Seseorang dapat berbicara panjang tentang Tuhan tanpa pernah merasakan kerinduan kepada-Nya.
Demikian pula dengan hakikat.
Hakikat tidak berhenti pada pemahaman.
Ia menuntut perubahan keberadaan.
Perubahan cara memandang.
Perubahan cara merasakan.
Perubahan cara menjalani kehidupan.
Karena itu keberhasilan perjalanan ini tidak diukur dari seberapa banyak istilah yang berhasil dipahami.
Tidak pula diukur dari seberapa tinggi pengalaman spiritual yang pernah dialami.
Ukurannya jauh lebih sederhana.
Apakah hati menjadi lebih lembut?
Apakah kasih sayang menjadi lebih luas?
Apakah ego menjadi lebih kecil?
Apakah keberadaan kita membawa lebih banyak manfaat bagi sesama?
Jika jawabannya ya, berarti perjalanan itu sedang bergerak ke arah yang benar.
---
Ketika Rahman dan Rahim Menjadi Watak
Dalam pembacaan hakikat yang menjadi dasar buku ini, ruh dipahami sebagai pancaran dari sifat Rahman dan Rahim.
Karena itu perjalanan ruhani yang sejati pada akhirnya akan kembali kepada dua sifat tersebut.
Bukan sebagai konsep.
Bukan sebagai teori.
Melainkan sebagai watak.
Seseorang yang benar-benar berjalan menuju Allah tidak akan menjadi semakin keras.
Tidak akan menjadi semakin sempit.
Tidak akan menjadi semakin mudah membenci.
Sebaliknya, ia menjadi semakin mampu memahami.
Semakin mampu memaafkan.
Semakin mampu merangkul.
Semakin mampu memaklumi.
Bukan karena ia kehilangan kemampuan membedakan benar dan salah.
Tetapi karena ia mulai melihat manusia dengan pandangan yang lebih dalam.
Ia melihat luka di balik kemarahan.
Ia melihat kebingungan di balik kesesatan.
Ia melihat ketidaktahuan di balik kesombongan.
Dan karena itu, yang tumbuh dalam dirinya bukan kebencian.
Melainkan belas kasih.
---
Jalan Pulang yang Tak Pernah Berakhir
Sebagian orang mengira bahwa perjalanan spiritual memiliki garis akhir.
Seolah-olah ada suatu titik di mana seseorang dapat berkata:
"Aku telah sampai."
Padahal para arif justru memahami kebalikannya.
Semakin dekat seseorang kepada lautan hakikat, semakin ia menyadari betapa luasnya lautan tersebut.
Semakin banyak yang tersingkap, semakin banyak pula yang belum tersingkap.
Karena itu perjalanan menuju Allah bukanlah perjalanan yang berakhir dengan kepemilikan.
Melainkan perjalanan yang berakhir dengan ketundukan.
Bukan dengan kesombongan.
Melainkan dengan kerendahan hati.
Bukan dengan klaim.
Melainkan dengan rasa syukur.
Di hadapan Yang Maha Tak Terbatas, manusia akhirnya menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang pejalan.
Seorang musafir.
Seorang pencari.
---
Sebuah Pesan Terakhir
Apabila ada satu hal yang ingin ditinggalkan oleh buku ini kepada pembacanya, maka mungkin hal itu adalah ini:
Jangan terlalu sibuk mencari Tuhan di tempat yang jauh.
Karena sering kali yang jauh bukan Tuhan.
Yang jauh adalah kesadaran kita sendiri.
Tuhan tidak perlu didekatkan.
Yang perlu didekatkan adalah hati.
Yang perlu dibersihkan adalah jiwa.
Yang perlu ditenangkan adalah nafs.
Yang perlu disingkirkan adalah hijab-hijab yang menutupi pandangan batin.
Ketika hijab itu menipis, manusia mulai melihat bahwa sepanjang hidupnya ia sebenarnya tidak pernah benar-benar ditinggalkan.
Ia hanya belum menyadari kehadiran-Nya.
Dan ketika kesadaran itu lahir, seluruh perjalanan menemukan maknanya.
---
Kembali Kepada Asal
Urip Sejati mengingatkan kita tentang dari mana kehidupan berasal.
Sejatine Urip mengingatkan kita untuk apa kehidupan dijalani.
Bener Sejati mengingatkan kita dari mana kebenaran bersumber.
Sejatine Bener mengingatkan kita bagaimana kebenaran itu harus diwujudkan.
Dan ketika keempatnya bertemu, manusia mulai memahami bahwa seluruh kehidupan ini sesungguhnya adalah satu gerak yang sama.
Gerak kembali.
Kembali kepada kejernihan.
Kembali kepada fitrah.
Kembali kepada kedamaian.
Kembali kepada sumber.
Kembali kepada Yang Maha Menghidupkan.
Kembali kepada Allah.
Dan mungkin, seluruh hakikat dapat diringkas dalam satu doa yang diam-diam dipanjatkan oleh setiap ruh sejak awal keberadaannya:
«Ya Allah,
sebagaimana Engkau telah mengeluarkanku dari-Mu untuk menjalani perjalanan ini,
maka bimbinglah aku agar dapat kembali kepada-Mu dengan selamat,
dalam keadaan ridha dan Engkau pun ridha kepadaku.»
Tamat.
Komentar
Posting Komentar