Langsung ke konten utama

TUHAN DALAM AL-QUR'AN : Allah, Rabb al-'Ālamīn, dan Universalitas Tuhan Lintas Budaya

By. Hamba Sejati 


Pendahuluan

Ketika orang Indonesia membaca Al-Qur'an, ada satu kata yang hampir selalu dipertahankan dalam bentuk aslinya :

> الله — Allah

Terjemahan Al-Qur'an biasanya tidak menerjemahkannya menjadi “Tuhan”, melainkan mempertahankan lafaz Arab tersebut.

Kebiasaan ini tentu mempunyai alasan historis dan teologis. Namun ada sebuah pertanyaan yang menarik :

> Apakah “Allah” harus dipahami sebagai nama pribadi Tuhan yang hanya boleh disebut dengan lafaz Arab tersebut?

Atau mungkinkah kita memahaminya secara lebih universal :

> Allah adalah sebutan bahasa Arab bagi Tuhan, sedangkan bangsa-bangsa lain dapat menyebut Tuhan dengan bahasa mereka sendiri?

Pertanyaan ini bukan sesuatu yang sama sekali baru dalam pemikiran Islam Indonesia. Nurcholish Madjid pernah menjelaskan bahwa Allah merupakan sebutan dalam bahasa Arab untuk konsep Wujud Yang Mahatinggi, the Supreme Being. 

Gagasan ini membuka jalan untuk membaca Al-Qur'an bukan sebagai kitab yang memperkenalkan “Tuhan bangsa Arab”, tetapi sebagai wahyu yang memperkenalkan Tuhan Yang Universal.

---

1. Allah adalah sebutan bahasa Arab bagi Tuhan

Al-Qur'an turun dalam bahasa Arab.

Karena itu, ketika berbicara tentang Tuhan, Al-Qur'an menggunakan lafaz :

> الله — Allah

Dalam bahasa Indonesia kita mempunyai kata :

> Tuhan

Dalam bahasa Inggris:

> God

Dalam bahasa Jerman:

> Gott

Dalam bahasa Spanyol:

> Dios

Dalam bahasa Jawa terdapat berbagai ungkapan untuk menunjuk kepada Yang Mahatinggi, misalnya :

> Gusti Allah atau Gusti Pangeran 

Perbedaan bahasa tidak dengan sendirinya berarti bahwa manusia sedang berbicara tentang Tuhan yang berbeda.

Yang lebih mendasar adalah :

> Siapakah Tuhan yang dimaksud oleh sebutan tersebut?

Karena itu, posisi yang lebih aman bukan mengatakan :

> “Allah bukan nama Tuhan.”

melainkan:

> “Allah adalah sebutan/nama Tuhan dalam bahasa Arab; universalitas Tuhan tidak bergantung pada bahasa yang digunakan manusia untuk menyebut-Nya.”

Dengan rumusan ini, kita tidak perlu menolak tradisi Islam yang menyebut Allah sebagai ism al-dhāt, tetapi juga tidak menjadikan lafaz Arab tersebut sebagai milik eksklusif suatu etnis.

---

2. Rabb al-'Ālamīn : Tuhan seluruh alam

Perhatikan ayat kedua Al-Fatihah :

> الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Al-ḥamdu lillāhi rabbil-'ālamīn.

Terjemahan yang lazim :

> “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.

Namun apabila Rabb diterjemahkan secara maknawi, kita memperoleh:

> “Segala puji bagi Tuhan, pengatur dan pemelihara seluruh alam.”

Ini bukan terjemahan harfiah kata-per-kata, melainkan terjemahan interpretatif yang berusaha menghadirkan kandungan makna Rabb.

Dan ada sesuatu yang sangat penting di sini.

Al-Qur'an tidak mengatakan :

> Rabb al-'Arab

Tuhan bangsa Arab.

Melainkan :

> رَبِّ الْعَالَمِينَ

> Rabb seluruh alam.

Maka sejak awal Al-Fatihah, Tuhan ditempatkan dalam cakupan yang melampaui bangsa, bahasa, wilayah, dan kebudayaan.

---

3. Al-Qur'an sendiri memberikan pola : Rabb → Allah

Perhatikan ayat:

> قُلْ مَن رَّبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ قُلِ اللَّهُ

> “Katakanlah : Siapakah Rabb langit dan bumi? Katakanlah: Allah.”

Secara interpretatif kita dapat menerjemahkannya :

> “Katakanlah : Siapakah penguasa, pengatur dan pemelihara langit dan bumi? Katakanlah : Allah  [ Tuhan ].”

Di sini terlihat hubungan yang sangat menarik:

> Rabb langit dan bumi → Allah

Jika Rabb dijelaskan sebagai penguasa, pengatur dan pemelihara, maka Allah merupakan sebutan bagi Tuhan yang memiliki kedudukan tersebut.

Dengan demikian, perhatian tidak berhenti pada bunyi “Allah”, tetapi bergerak kepada realitas Tuhan yang dirujuk oleh lafaz tersebut.

---

4. Tuhan dikenal melalui sifat dan tindakan-Nya

Al-Qur'an tidak memperkenalkan Tuhan hanya melalui satu sebutan.

Tuhan disebut :

> الرَّحْمَٰنِ

Yang Maha Pengasih

> الرَّحِيمِ

Yang Maha Penyayang

> رَبِّ الْعَالَمِينَ

Pengatur dan pemelihara seluruh alam

> مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

Penguasa Hari Pembalasan

Dengan demikian, Tuhan dalam Al-Qur'an dikenali melalui sifat, kedudukan, dan af'al-Nya.

Ini penting karena kita tidak bisa hanya mengatakan :

> “Tuhan adalah apa pun yang disebut Tuhan oleh manusia.”

Tidak demikian.

Karena Al-Qur'an memberikan standar ketuhanan.

---

5. Kriteria Tuhan menurut Al-Qur'an

Surah Al-Ikhlas memberikan batas yang sangat tegas :

> قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

> “Katakanlah : Dialah Tuhan Yang Esa.”

Kemudian:

> اللَّهُ الصَّمَدُ

> “Tuhan tempat bergantung.”

Kemudian:

> لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

> “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.”

Dan:

> وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ

> “Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

Maka konsep Tuhan Al-Qur'an mempunyai kriteria :

Esa.

Mahatinggi.

Tempat seluruh makhluk bergantung.

Tidak beranak.

Tidak diperanakkan.

Tidak memiliki sesuatu yang setara dengan-Nya.

Pengatur dan pemelihara seluruh alam.

Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Inilah yang menjadi parameter tauhid.

---

6. Bahasa boleh berbeda, tetapi kriterianya tetap

Dengan demikian kita dapat membayangkan seorang manusia dari berbagai kebudayaan :

> Orang Arab mengatakan Allah.

> Orang Indonesia mengatakan Tuhan.

> Orang Jawa mengatakan Gusti 

> Orang India menggunakan istilah yang tersedia dalam bahasanya.

> Orang Tionghoa menggunakan istilah dalam tradisinya.

> Orang Eropa menggunakan God atau padanan bahasa masing-masing.

> Orang Afrika menggunakan istilah dari bahasa dan kebudayaannya sendiri.

Tidak tepat mengatakan bahwa semua istilah tersebut otomatis identik.

Tetapi juga tidak tepat menjadikan bahasa Arab sebagai syarat universal untuk menyebut Tuhan.

Pertanyaan tauhid yang lebih mendasar adalah :

> Apakah realitas Tuhan yang mereka maksud sesuai dengan karakter Tuhan yang ditegaskan Al-Qur'an?

Dengan demikian:

> Bahasa dapat berbeda.

> Kebudayaan dapat berbeda.

> Sebutan dapat berbeda.

Tetapi kriteria ketuhanan tetap dapat diuji dengan tauhid Al-Qur'an.

---

7. Inilah makna penting “Rabb al-'Ālamīn”

Kata al-'ālamīn membuat konsep ini semakin luas.

Tuhan bukan hanya :

> Tuhan bangsa Arab.

Bukan :

> Tuhan bangsa Jawa, Bugis, Sunda atau Batak.

Bukan :

> Tuhan bangsa India.

Bukan:

> Tuhan bangsa Eropa.

Melainkan:

> Rabb al-'ālamīn.

Tuhan seluruh alam.

Karena itu, Islam tidak membawa gagasan :

> “Tuhan bangsa Arab harus menggantikan Tuhan bangsa lain.”

Yang dibawa adalah :

> Tauhid : seluruh keberadaan pada akhirnya tunduk kepada satu Tuhan Yang Esa.

---

8. Nabi Muhammad Orang Arab, tetapi risalahnya universal

Fakta bahwa nabi Muhammad adalah orang Arab tidak mengubah universalitas risalahnya.

Al-Qur'an berkata :

> قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا

> “Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kamu semua.”- QS Al-A'raf 7:158

Dan:

> وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

> “Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” - QS Al-Anbiya 21:107

Di sini terdapat perbedaan yang sangat penting :

> Bahasa wahyu adalah Arab.

tetapi:

> sasaran risalahnya adalah seluruh manusia.

Karena itu, bahasa Arab tidak boleh disamakan dengan universalitas Islam.

---

9. Islamisasi tidak identik dengan Arabisasi

Dari sini muncul konsekuensi penting bagi masyarakat non-Arab.

Menjadi Muslim tidak berarti :

> menjadi seperti orang Arab.

Seorang Jawa dapat menjadi Muslim dan tetap menjadi Jawa.

Seorang Sunda dapat menjadi Muslim dan tetap menjadi Sunda.

Seorang Afrika dapat menjadi Muslim tanpa menjadi Arab.

Seorang Tionghoa dapat menjadi Muslim tanpa kehilangan kebudayaannya.

Yang berubah adalah orientasi ketuhanan dan nilai hidupnya, bukan kewajiban mengganti seluruh identitas budaya.

Maka perlu dibedakan :

> Islamisasi

masuknya nilai tauhid dan risalah ke dalam suatu masyarakat.

dengan:

> Arabisasi

menjadikan bentuk-bentuk kebudayaan Arab sebagai standar universal bagi seluruh Muslim.

Keduanya bukan hal yang sama.

---

10. Setiap umat mempunyai konteksnya sendiri

Al-Qur'an bahkan menyatakan:

> وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولٌ

> “Dan bagi setiap umat ada seorang rasul.”-QS Yunus 10:47

Dan:

> وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ

> “Tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” QS Fatir 35:24

Ini membuka pertanyaan yang sangat dalam :

> Jika Tuhan universal tetapi manusia hidup dalam kebudayaan yang berbeda-beda, bukankah wahyu memang harus berbicara kepada manusia melalui bahasa dan konteks yang dapat mereka pahami?

Al-Qur'an sendiri mengatakan :

> وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ

> “Kami tidak mengutus seorang rasul pun kecuali dengan bahasa kaumnya.” QS Ibrahim 14:4

Maka bahasa lokal bukan penghalang menuju Tuhan.

Justru bahasa adalah medium manusia untuk memahami wahyu.

---

11. Dari sini kita dapat memahami kembali hubungan Islam dengan Jawa

Dalam konteks Jawa, pertanyaan yang seharusnya tidak selalu:

> “Apakah istilah ini Arab atau bukan?”

Tetapi:

> “Apakah makna yang dikandungnya bertentangan atau sejalan dengan tauhid Al-Qur'an?”

Sebuah istilah Jawa tidak otomatis menjadi kafir hanya karena bukan bahasa Arab.

Sebaliknya, sebuah istilah Arab juga tidak otomatis menjadi benar hanya karena berasal dari bahasa Arab.

Ukuran akhirnya adalah makna dan orientasi ketuhanannya.

Inilah yang memungkinkan Islam berakar dalam berbagai kebudayaan tanpa harus menghapus kebudayaan tersebut.

---

12. Allah, Tuhan, dan batas bahasa

Pada akhirnya kita harus menyadari bahwa kata bukanlah Tuhan itu sendiri.

Lafaz:

> Allah

adalah bahasa.

Lafaz:

> Tuhan

juga bahasa.

Lafaz:

> Gusti

juga bahasa.

Manusia membutuhkan bahasa untuk menunjuk kepada Yang Mahatinggi, tetapi Tuhan tidak menjadi terbatas oleh bahasa manusia.

Karena itu, gagasan Nurcholish Madjid tentang Allah sebagai sebutan bahasa Arab bagi Wujud Yang Mahatinggi menjadi relevan. 

Bahkan dalam penjelasan yang dikaitkan dengan gagasan Cak Nur, lā ilāha illā Allāh pernah dirumuskan sebagai:

> “Tiada tuhan selain Tuhan.”

Maksudnya adalah membedakan antara tuhan-tuhan yang dikonstruksikan atau dipertuhankan manusia dengan Tuhan sejati Yang Mahatinggi. 

Tentu formulasi Cak Nur tersebut juga mendapat kritik dari kalangan lain yang mempertahankan Allah sebagai nama diri yang tidak boleh diterjemahkan. Karena itu, pendekatan ini memang merupakan posisi intelektual tertentu, bukan konsensus tunggal seluruh ulama. 

---

13. Kesimpulan

Kita akhirnya dapat merumuskan gagasan ini secara sederhana:

> Allah adalah sebutan bagi Tuhan dalam bahasa Arab yang digunakan Al-Qur'an.

Tetapi :

> Tuhan yang dimaksud Al-Qur'an bukan Tuhan bangsa Arab.

Dia adalah :

> رَبِّ الْعَالَمِينَ

Rabb seluruh alam.

" Karena itu bangsa-bangsa lain dapat menyebut Tuhan dengan bahasa mereka sendiri—Tuhan, Gusti, God, dan berbagai sebutan lainnya—tanpa harus menganggap bahwa Tuhan hanya dapat disebut dengan bunyi Arab Allah " .

Namun kebebasan bahasa tersebut bukan berarti relativisme tanpa batas.

Al-Qur'an tetap memberikan standar. Bahwa Tuhan yang dimaksud adalah Tuhan yang :

> Maha Esa,

> Maha Pengasih,

> Maha Penyayang,

> pengatur dan pemelihara seluruh alam,

> Penguasa Hari Pembalasan,

> tidak beranak,

> tidak diperanakkan,

> dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.

Maka formula akhirnya dapat diringkas menjadi :

> Bahasa boleh beragam.

> Budaya boleh beragam.

> Sebutan Tuhan boleh beragam.

Tetapi Tuhan Yang Maha Esa tidak menjadi beragam.

Dan di situlah makna Rabb al-'ālamīn memperoleh kedalaman yang sesungguhnya :

> Al-Qur'an turun dalam bahasa Arab, tetapi Tuhan yang diwartakannya adalah Tuhan seluruh alam.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membaca Perang Amerika Serikat–Israel terhadap Iran melalui QS. Al-Mā’idah : 51

Wilāyah, Wahn, dan Pergeseran Pembawa Amanah dalam Arus Sejarah. By. Hamba Sejati   يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَا لنَّصٰرٰۤى اَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِ نَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ " Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali (orang kepercayaan dan pelindungmu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."-  ( QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 51 ) 1. Sebuah Pertanyaan yang Sering Terlewatkan Ada satu bagian dari QS. Al-Mā’idah: 51 yang menarik perhatian ketika dibaca dari perspektif sejarah yang panjang : > بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ “ Sebagian mereka adalah awliyā’ bagi sebagian yang lain .” Ayat tersebut berbicara m...

Empat Pilar Kaweruh Hakikat : Refleksi atas Urip Sejati, Sejatine Urip, Bener Sejati dan Sejatine Bener

 By. Hamba Sejati   Pendahuluan   Ada dua cara manusia memperoleh "kebenaran": pertama, dengan membaca—menumpuk kata, membandingkan pendapat, dan berdebat di ranah logika. Kedua, dengan disambangi—ketika akal budi diistirahatkan total, raga terbaring, tirai alam sadar tersingkap, dan Ruh berbicara langsung dalam hening mimpi. Esai ini lahir dari pengalaman yang kedua. Bukan dari tumpukan buku, melainkan dari pengajaran langsung yang terjadi di alam mimpi rohani —sebuah ruang di mana kebenaran hadir tanpa perantara, menusuk tepat ke inti kesadaran, dan meninggalkan jejak yang tak terhapuskan oleh keraguan duniawi. Di sanalah, Sang Guru Sejati menitipkan empat pilar pengetahuan yang selama ini tersembunyi di balik samar bahasa : Urip Sejati , Sejatine Urip , Bener Sejati , dan Sejatine Bener . Mengapa pengajaran ini penting untuk ditulis dan disampaikan? Karena manusia modern tersesat dalam ilusi tahu. Kita merasa benar karena kita bisa berargumentasi; kita merasa hidup kar...

KETIKA AL-FATIHAH DIBACA SECARA HAKIKAT

By. Hamba Sejati Pendahuluan Ketika Al-Fatihah Dibaca dengan Mata Batin Bagi kebanyakan kaum Muslimin, Al-Fatihah adalah surah pembuka. Ia dibaca dalam setiap rakaat salat, dihafalkan sejak masa kanak-kanak, dan menjadi pintu masuk bagi seluruh bangunan Al-Qur'an. Namun bagi para pencari hakikat, Al-Fatihah bukan sekadar pembuka kitab. Ia adalah ringkasan seluruh perjalanan keberadaan. Ia bukan hanya berbicara tentang Tuhan. Ia bukan hanya berbicara tentang ibadah. Ia juga berbicara tentang dari mana manusia berasal, bagaimana ia diturunkan ke alam dunia, apa yang tersembunyi di dalam dirinya, dan ke mana akhirnya ia harus kembali. Karena itu Al-Fatihah dapat dibaca dalam dua lapisan. Lapisan pertama adalah lapisan syariat, yaitu makna lahiriah yang menjadi petunjuk bagi seluruh umat. Lapisan kedua adalah lapisan hakikat, yaitu makna batin yang tersingkap ketika ayat-ayatnya dibaca sebagai peta perjalanan kesadaran. Dalam pembacaan hakikat ini, tujuh ayat Al-Fatihah membentuk suat...