By. Hamba Sejati
Mengapa Pengamalan dan Pengalaman Keagamaan Manusia Semakin Dangkal?
Pendahuluan
Agama pada hakikatnya bukan sekadar seperangkat aturan.
Agama berbicara tentang hubungan manusia dengan realitas yang melampaui dirinya sendiri.
Di dalam agama terdapat pencarian Tuhan, pengenalan terhadap-Nya, pembentukan manusia, penyucian jiwa, perubahan karakter, dan perjalanan rohani.
Namun dalam perjalanan sejarah, sesuatu yang hidup dapat berubah menjadi formal.
Pengalaman dapat berubah menjadi ritual.
Pencarian dapat berubah menjadi doktrin.
Pengenalan dapat berubah menjadi hafalan.
Dan hubungan manusia dengan Tuhan dapat berubah menjadi identitas keagamaan.
Di sinilah kita menemukan sebuah paradoks:
«Manusia dapat semakin religius secara formal, tetapi semakin jauh dari pengalaman spiritual.»
Masjid dapat semakin ramai.
Gereja dapat semakin penuh.
Kitab dapat semakin banyak dicetak.
Ceramah semakin mudah diakses.
Informasi agama dapat diperoleh dalam hitungan detik.
Tetapi semua itu tidak otomatis berarti manusia semakin mengenal Tuhan.
Persoalan inilah yang perlu kita bedah.
---
I. Dari Mengalami Tuhan Menjadi Mengetahui tentang Tuhan
Ada perbedaan yang sangat mendasar antara dua keadaan :
«mengetahui tentang Tuhan»
dan
«mengalami hubungan dengan Tuhan.»
Seseorang dapat mengetahui ratusan nama dan sifat Tuhan.
Ia dapat menghafal ayat.
Ia dapat menguasai doktrin.
Ia dapat memahami sejarah agama.
Ia bahkan dapat berdebat dengan sangat baik mengenai persoalan teologi.
Tetapi semua itu masih berada pada wilayah pengetahuan tentang Tuhan. Pengenalan yang bersifat spiritual berada pada wilayah yang berbeda.
Di sana manusia tidak hanya bertanya:
«“Apa yang dikatakan agama tentang Tuhan?”»
Tetapi :
«“Apa yang terjadi dalam diri saya ketika saya benar-benar menghadap dan bermunajat dengan Tuhan ?”»
Perbedaan ini sangat penting.
Sebab agama dapat menghasilkan manusia yang sangat berpengetahuan secara teologis, tetapi belum tentu menghasilkan manusia yang mengalami transformasi batin.
---
II. Ketika Identitas Menggantikan Pengalaman
Salah satu bentuk pendangkalan paling awal adalah ketika agama berubah menjadi identitas.
Seseorang berkata :
«“Saya Muslim.”»
atau:
«“Saya Kristen.”»
atau:
«“Saya Hindu.”»
Pernyataan tersebut sebenarnya hanya menjelaskan afiliasi keagamaan.
Tetapi dalam kesadaran tertentu, identitas tersebut kemudian dianggap sama dengan kedekatan kepada Tuhan.
Padahal keduanya berbeda.
Seseorang dapat mempunyai identitas agama yang sangat kuat tetapi tidak mengalami perubahan batin yang berarti.
Sebaliknya, seseorang dapat menjalani pencarian spiritual yang sangat dalam sehingga hubungan dengan Tuhan menjadi persoalan eksistensial yang jauh lebih penting daripada label sosialnya.
Karena itu perlu dibedakan :
«memiliki agama»
dengan
«mengalami agama.»
---
III. Ketika Ritual Kehilangan Jiwa
Ritual pada awalnya bukan sekadar gerakan tubuh. Ia merupakan sarana untuk mengarahkan manusia kepada Tuhan. Namun ritual dapat kehilangan kedalamannya ketika yang tersisa hanya bentuk.
Manusia melakukan gerakan yang benar. Mengucapkan lafaz yang benar. Mengikuti waktu yang benar. Mengenakan pakaian yang benar. Tetapi kesadarannya tidak benar-benar hadir.
Ritual tetap dilakukan, tetapi manusia yang melakukan ritual tidak mengalami perubahan. Di sinilah muncul keadaan yang paradoks :
«bentuk ibadah tetap hidup, tetapi pengalaman batinnya mati.»
Ini bukan berarti ritual tidak penting. Justru ritual dapat menjadi wadah pengalaman spiritual. Tetapi wadah bukanlah isi. Tubuh dapat melakukan ibadah tanpa kesadaran benar-benar masuk ke dalam maknanya.
---
IV. Doktrin Menggantikan Pencarian
Pendangkalan juga terjadi ketika manusia diberikan jawaban sebelum ia mengalami pertanyaan.
Sejak kecil manusia diberitahu :
«Tuhan itu begini.»
«Keselamatan itu begini.»
«Nabi itu begini.»
«Orang benar itu begini.»
«Orang salah itu begitu.»
Semua jawaban tersebut dapat menjadi penting.
Tetapi ada risiko :
«manusia berhenti mencari.»
Ia tidak lagi mengalami perjalanan menuju Tuhan.
Ia hanya menghafal kesimpulan orang-orang yang telah berjalan sebelumnya.
Akibatnya agama berubah dari :
«seharusnya proses transformasi dan perjalanan batin manusia »
menjadi :
«kumpulan jawaban.»
Padahal pengalaman spiritual justru sering lahir ketika manusia berani memasuki pertanyaan-pertanyaan paling mendasar tentang keberadaan dirinya.
---
V. Institusi dan Monopoli Penafsiran
Pendangkalan menjadi semakin kuat ketika institusi agama mengambil hampir seluruh otoritas terhadap pengalaman spiritual.
Manusia akhirnya belajar :
«“Kalau ingin mengetahui Tuhan, tanyalah kepada pemimpin agama.”»
Tentu pemimpin agama mempunyai fungsi penting.
Tetapi jika manusia kehilangan keberanian untuk mengalami, merenungkan, dan mencari Tuhan sendiri, maka hubungan manusia dengan Tuhan menjadi hubungan yang dimediasi hampir sepenuhnya oleh institusi.
Di sinilah pengalaman spiritual pribadi dapat dianggap mencurigakan.
Seseorang berkata :
«“Saya mengalami sesuatu.”»
Institusi menjawab :
«“Apakah pengalaman itu sesuai dengan doktrin kami?”»
Pertanyaannya kemudian berubah.
Bukan lagi :
«“Apa yang sebenarnya dialami manusia itu?”»
tetapi :
«“Apakah pengalaman itu cocok dengan sistem kita?”»
Kondisi institusional keagamaan semacam itu bisa menjadi penghambat yang sangat besar bagi tumbuh kembangnya tradisi suluk [ proses pencarian Tuhan secara individual dan transformasi jiwa ] umat beragama.
---
VI. Hilangnya Bahasa untuk Pengalaman Batin
Salah satu persoalan terbesar agama modern adalah hilangnya kosakata pengalaman spiritual.
Tradisi spiritual klasik mempunyai bahasa untuk membicarakan keadaan batin.
Dalam tasawuf, misalnya, terdapat istilah seperti:
nafs, qalb, ruh, sirr, dzauqillah, kasyf, musyahadah, fanafillah, baqabillah, ma'rifatillah.
Istilah tersebut memberikan manusia semacam peta perjalanan batin.
Ketika bahasa tersebut hilang, manusia masih dapat beribadah, tetapi tidak lagi mempunyai alat konseptual untuk memahami apa yang terjadi dan yang di alami di dalam dirinya dalam proses perjalanan suluk.
Ketika mengalami fenomena pengalaman rohani yang luar biasa, ia mungkin hanya mampu mengatakan :
«“Saya merasakan sesuatu yang aneh.”»
Padahal mungkin ada proses batin yang jauh lebih kompleks.
Karena itu salah satu penyebab pendangkalan spiritual bukan hanya kurangnya pengalaman.
Tetapi :
«manusia kehilangan bahasa untuk mengenali pengalaman yang dialaminya sendiri.»
---
VII. Pendidikan Agama yang Terlalu Banyak Mengajarkan, Terlalu Sedikit Mengalami
Pendidikan agama modern sering sangat kuat pada transfer informasi.
Anak diajarkan :
- menghafal berbagai doa dan ayat,
- menjawab soal,
- mengetahui hukum fiqih,
- mengingat nama tokoh nabi, ulama ulama besar dalam berbagai madzhab fiqih, hadits, tafsir dan tasawuf,
- memahami doktrin.
Semua itu mempunyai fungsi.
Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan :
«Apakah anak sedang diajarkan bagaimana mengalami Tuhan?»
Bagaimana seseorang belajar diam?
Bagaimana seseorang belajar memperhatikan batinnya?
Bagaimana seseorang mengenali keserakahan dalam dirinya?
Bagaimana seseorang menyadari munculnya kesombongan?
Bagaimana seseorang mengalami rasa syukur?
Bagaimana seseorang mengalami kehadiran Tuhan?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering berada di luar sistem pendidikan agama formal.
Akibatnya pendidikan agama menghasilkan pengetahuan keagamaan, tetapi tidak selalu menghasilkan kedalaman spiritual.
---
VIII. Rasionalisme yang Menutup Pintu Pengalaman
Ada pendangkalan lain yang berasal dari arah yang berbeda.
Jika agama terlalu takut terhadap pengalaman subjektif, maka semua pengalaman spiritual dapat dianggap tidak valid karena tidak dapat diukur secara objektif.
Akibatnya manusia hanya mengakui sesuatu yang dapat dijelaskan secara rasional.
Padahal pengalaman manusia jauh lebih luas daripada apa yang dapat segera diformulasikan.
Namun kita juga tidak boleh jatuh ke ekstrem sebaliknya.
Tidak semua pengalaman batin adalah wahyu.
Tidak semua mimpi adalah pesan Tuhan.
Tidak semua suara adalah ilham.
Tidak semua visi adalah kebenaran.
Karena itu posisi yang sehat bukan :
«menolak pengalaman»
atau :
«menelan semua pengalaman.»
Tetapi :
«mengalami, mendeskripsikan, kemudian menguji.»
---
IX. Materialisme dan Kebisingan Kehidupan
Manusia modern hidup dalam keadaan yang sangat bising.
Informasi tidak pernah berhenti.
Telepon selalu aktif.
Media sosial terus mengalir.
Iklan terus memanggil.
Keinginan terus diproduksi.
Manusia terus membandingkan dirinya dengan manusia lain.
Kesadaran terus ditarik keluar.
Padahal pengalaman spiritual sering membutuhkan keadaan sebaliknya :
«diam, keheningan, kesadaran, dan perhatian kedalam.»
Bukan berarti manusia harus meninggalkan dunia.
Masalahnya adalah ketika manusia tidak pernah lagi mempunyai ruang untuk memberi perhatian kedalam dan berjumpa dengan dirinya sendiri.
Manusia mengetahui harga barang.
Mengetahui berita.
Mengetahui kehidupan orang lain.
Mengetahui perkembangan politik.
Tetapi tidak mengetahui dan kurang memperhatikan apa yang sedang terjadi di dalam dirinya.
---
X. Informasi Spiritual yang Berlebihan
Zaman sekarang mempunyai persoalan yang unik.
Manusia belum pernah mempunyai akses informasi agama sebesar sekarang.
Namun kelimpahan informasi tidak otomatis menghasilkan kedalaman.
Seseorang dapat menonton :
«ceramah → podcast → debat → tafsir → video → diskusi → komentar → ceramah lagi.»
Akhirnya terjadi paradoks :
« manusia disatu sisi mengalami banjir informasi spiritual, tetapi sekaligus kekurangan pengalaman spiritual.»
Manusia menjadi ahli dalam membicarakan Tuhan, tetapi belum tentu mengalami transformasi ketika berhadapan dengan Tuhan.
Ini adalah salah satu paradoks terbesar agama modern.
---
XI. Ketika Ego Memakai Agama
Agama seharusnya menjadi jalan untuk mengatasi ego.
Namun agama dapat menjadi pakaian baru bagi ego.
Dulu seseorang berkata :
«“Saya lebih kaya.”»
Kemudian:
«“Saya lebih pintar.”»
Kemudian:
«“Saya lebih suci.”»
Dan akhirnya :
«“Agama saya lebih benar daripada agama Anda.”»
Ego tidak hilang.
Ia hanya mengganti identitas.
Ini sangat berbahaya.
Sebab manusia dapat menggunakan agama untuk membenarkan :
- kesombongan,
- kebencian,
- permusuhan,
- fanatisme,
- penghukuman terhadap orang lain.
Padahal pengalaman spiritual yang mendalam seharusnya justru membuat manusia semakin sadar terhadap kelemahan dirinya.
---
XII. Ketakutan Menggantikan Pengenalan
Agama yang terutama dibangun dengan ketakutan dapat menghasilkan kepatuhan.
Tetapi kepatuhan tidak selalu sama dengan pengenalan.
Ada perbedaan antara :
«“Saya berbuat baik karena takut dihukum.”»
dan :
«“Saya berbuat baik karena saya memahami kehendak Tuhan.”»
Yang pertama berpusat pada hukuman.
Yang kedua berpusat pada transformasi.
Tentu rasa takut kepada Tuhan mempunyai tempat dalam agama.
Tetapi apabila ketakutan menjadi satu-satunya energi spiritual, manusia mungkin hanya menjadi patuh, bukan matang.
---
XIII. Komersialisasi dan Politisasi Agama
Ketika agama menjadi industri, panggung, komoditas, atau alat politik, pusat perhatian dapat berpindah.
Dari :
«Tuhan»
menjadi :
«tokoh agama.»
Dari :
«transformasi manusia»
menjadi :
«jumlah pengikut.»
Dari :
«kedalaman spiritual»
menjadi :
«popularitas.»
Dari :
«kebenaran»
menjadi :
«kemenangan kelompok.»
Dalam keadaan seperti itu, agama tetap terlihat sangat hidup di permukaan. Tetapi kedalaman spiritualnya dapat mengalami erosi.
---
XIV. Titik Balik : Pengalaman Spiritual sebagai Transformasi Kesadaran
Di sinilah kita kembali kepada pengalaman yang menjadi titik awal rangkaian pembahasan ini.
Ada pengalaman tertentu yang tidak sekadar memberikan informasi. Ia mengubah cara manusia melihat.
Seseorang tidur dan mengalami suatu mimpi pengajaran [ rukyah sadiqah ] pada malam hari.
Ketika bangun, ia merasa dan mendapati bahwa struktur cara berpikirnya tiba-tiba saja berubah.
Ia melihat hubungan yang sebelumnya tidak terlihat.
Ia mampu memetakan peristiwa dengan cara yang sebelumnya tidak mampu dilakukan.
Jika fenomena semacam ini benar-benar terjadi, maka yang berubah bukan hanya isi pikiran.
Yang berubah adalah :
«cara kesadaran mengorganisasi realitas.»
Ini merupakan ciri yang sangat penting.
Pengalaman spiritual yang mendalam [ seperti mimpi mendapatkan pengajaran hakikat ] mungkin bukan terutama memberikan manusia lebih banyak informasi, tetapi membuat manusia melihat informasi yang sudah ada dengan struktur yang baru.
---
XV. Pengalaman Bukan Pengganti Kebenaran
Namun kita harus menjaga disiplin intelektual.
Pengalaman spiritual bukan bukti otomatis bahwa interpretasi seseorang benar.
Ada tiga lapisan yang harus dipisahkan :
Fenomena
Apa yang sebenarnya terjadi?
Kesadaran
Apa yang berubah dalam diri orang yang mengalaminya?
Interpretasi
Apa kesimpulan yang kemudian dibuat tentang pengalaman tersebut?
Kesalahan sering terjadi ketika ketiga lapisan tersebut dianggap sama.
«“Saya mengalami.”»
kemudian berubah menjadi :
«“Karena saya mengalami, maka tafsir saya pasti benar.”»
Padahal tidak demikian.
Pengalaman spiritual harus diuji.
---
XVI. Di Sinilah Tradisi Spiritual Memiliki Peran
Tradisi spiritual yang matang seharusnya bukan sekadar memberikan dogma.
Ia harus memberikan metode pengujian pengalaman.
Tasawuf, misalnya, tidak sekadar berbicara tentang pengalaman batin, tetapi juga tentang bagaimana manusia menghadapi nafs, membedakan dorongan ego, menilai pengalaman spiritual dan cara pandangnya terhadap sesuatu.
Demikian pula tradisi mistik dalam tradisi keagamaan yang lain, mereka juga harus mempunyai alat ukur berdasarkan doktrin dalam kitab suci mereka sendiri, guna membedakan pengalaman rohani yang mendalam dari pengalaman yang menyesatkan.
Dengan demikian, persoalannya bukan :
«agama versus pengalaman rohani keagamaan.»
Tetapi :
«bagaimana agama menyediakan "perangkat Furqon" untuk memahami dan menguji pengalaman spiritual seseorang.»
Dalam konteks ini, maka dalam menilai pengalaman spiritual seseorang, terdapat satu prinsip metodologis yang sangat penting.
Jika seseorang mengaku memperoleh pengalaman yang bersifat transeden [ hal-hal yang berkaitan dengan dimensi ilahiah ], maka pengalaman tersebut tidak cukup hanya dinilai berdasarkan perasaan orang yang mengalaminya.
Kita dapat mengujinya dengan :
«Apa yang sesungguhnya benar benar dikatakan kitab suci ?»
Sebagai sumber primer untuk mengujinya.
Bukan pertama-tama interpretasi tokoh-tokoh agama.
Bukan pertama-tama pandangan madzhab.
Bukan pertama-tama dogma teologi dan ilmu Kalam.
Melainkan :
« Hakikat dari apa yang tersurat dan yang tersirat dari dan didalam kitab suci itu sendiri.»
Dengan demikian pengalaman spiritual tidak diletakkan di atas teks.
Dan teks juga tidak digunakan untuk membunuh pengalaman sebelum pengalaman itu diperiksa.
Keduanya ditempatkan dalam hubungan:
«pengalaman menghasilkan klaim → teks [ makna zahir dan batinnya ] menjadi salah satu alat pengujian → realitas dan buah kehidupan menjadi pengujian berikutnya.»
---
XVII. Dari Agama Formal Menuju Agama yang Hidup
Jika demikian, apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia?
Bukan agama yang lebih banyak.
Bukan doktrin yang lebih rumit.
Bukan ritual yang lebih panjang.
Tetapi :
«kedalaman.»
Agama yang hidup adalah agama yang mengubah manusia.
Manusia yang semula dikuasai ego menjadi lebih rendah hati.
Manusia yang semula penuh kebencian menjadi mampu mengampuni.
Manusia yang semula hidup hanya untuk dirinya sendiri mulai mengenal tanggung jawab terhadap sesama.
Manusia yang semula hanya mengetahui Tuhan mulai mengalami pencarian terhadap Tuhan.
Dengan demikian ukuran kedalaman agama bukan semata-mata:
«berapa banyak ritual yang dilakukan,»
tetapi:
«seberapa jauh manusia berubah setelah menjalani ritual tersebut.»
---
XVIII. Sebuah Rumusan Baru
Dari seluruh pembahasan ini kita dapat membuat sebuah rumusan sederhana.
Pendangkalan spiritual terjadi ketika :
«pengalaman rohani keagamaan berubah menjadi ritual,»
«ritual berubah menjadi kewajiban,»
«kewajiban berubah menjadi identitas,»
«identitas berubah menjadi fanatisme,»
«dan fanatisme menggantikan pencarian Tuhan.»
Sebaliknya, kedalaman spiritual bergerak ke arah yang berlawanan :
«ritual → kesadaran → pengalaman → pengenalan → transformasi.»
Dengan demikian ritual tidak harus dibuang.
Doktrin tidak harus dibuang.
Institusi tidak harus dibuang.
Semuanya mempunyai tempat.
Tetapi semuanya harus kembali kepada tujuan akhirnya:
«manusia mengalami transformasi sehingga semakin dekat kepada Tuhan.»
---
XIX. Kesimpulan
Pendangkalan pengamalan dan pengalaman spiritual tidak terjadi karena agama kehilangan bentuk.
Justru sering terjadi karena bentuk agama menjadi lebih kuat daripada pengalaman yang seharusnya diwadahinya.
Manusia tetap beragama.
Tetapi :
«agama menjadi identitas.»
Manusia tetap beribadah.
Tetapi :
«ibadah menjadi rutinitas.»
Manusia tetap membaca kitab.
Tetapi :
«kitab menjadi objek hafalan.»
Manusia tetap berbicara tentang Tuhan.
Tetapi :
«Tuhan menjadi konsep.»
Dan manusia tetap mempertahankan agamanya.
Tetapi :
«pencarian terhadap Tuhan berhenti.»
Di sinilah tantangan terbesar agama bukanlah kehilangan pengikut.
Tantangan terbesarnya adalah :
«memiliki banyak pengikut tetapi kehilangan kedalaman pengalaman spiritual.»
Sebab manusia tidak hanya membutuhkan jawaban tentang Tuhan.
Manusia membutuhkan perjalanan untuk mengenal Tuhan.
Dan mungkin inilah alasan mengapa pengalaman transendental menjadi begitu penting untuk dikaji.
Ia mengingatkan kita bahwa kesadaran manusia mungkin mempunyai kedalaman yang tidak seluruhnya dapat dijelaskan oleh ritual, doktrin, atau institusi.
Tetapi pengalaman tersebut juga tidak boleh menjadi otoritas mutlak.
Ia harus diuji.
Karena tujuan akhirnya bukan :
«menjadi orang yang mempunyai pengalaman spiritual paling luar biasa.»
Tujuan akhirnya adalah :
«menjadi manusia yang setelah mengalami sesuatu tentang Tuhan, benar-benar berubah.»
Dengan demikian, ukuran terakhir pengalaman spiritual bukanlah seberapa spektakuler pengalaman itu, melainkan seberapa dalam transformasi manusia yang mengalaminya.
Dan dari sini kita sampai pada pertanyaan berikutnya yang lebih fundamental :
«Jika pengalaman spiritual memang dapat mengubah kesadaran manusia, apakah manusia dapat mempelajari suatu jalan untuk memasuki, memahami, dan menguji pengalaman tersebut?»
Pertanyaan inilah yang membawa kita kepada pembahasan berikutnya :
Tasawuf bukan sekadar kumpulan ritual, tetapi kemungkinan sebuah ilmu tentang perjalanan kesadaran manusia menuju pengenalan terhadap Tuhan.
Komentar
Posting Komentar