By. Hamba Sejati
Pendahuluan : Dari Manusia Menuju Peradaban
Pada dua tulisan sebelumnya, kita telah melihat ilmu asma dari dua sisi.
Pertama, dari sisi struktur pengetahuan: pengajaran Allah kepada Adam tentang al-asmā’ kullahā dapat dibaca sebagai sebuah kemungkinan dasar bahwa manusia diberi kemampuan untuk mengenali, membedakan, menghubungkan, dan memahami struktur realitas.
Kedua, dari sisi manusia: kemampuan tersebut mungkin tidak selalu muncul dalam bentuk kecerdasan yang tampak. Ia dapat berada sebagai potensi laten yang baru berkembang apabila manusia memiliki metode untuk mengaktifkan perhatian, intuisi, kemampuan mengenali pola, abstraksi, integrasi, dan refleksi atas proses berpikirnya sendiri.
Namun di sinilah persoalan berikutnya muncul:
Apa gunanya manusia yang memiliki kemampuan intelektual luar biasa apabila kemampuan tersebut berhenti di dalam dirinya sendiri?
Jawabannya membawa kita kepada tingkat ketiga:
Sebab peradaban tidak dibangun oleh kecerdasan individual semata.
Peradaban dibangun ketika kecerdasan individual berhasil diubah menjadi kemampuan kolektif untuk menghasilkan pengetahuan secara terus-menerus.
---
1. Pengetahuan Tidak Boleh Berhenti pada Individu
Seorang manusia dapat memiliki intuisi yang tajam.
Ia dapat menemukan pola yang tidak dilihat orang lain.
Ia dapat memiliki gagasan yang mendahului zamannya.
Tetapi apabila seluruh pengetahuan itu hanya tersimpan di dalam dirinya, maka ketika manusia tersebut meninggal, sebagian besar pengetahuan itu ikut hilang.
Karena itu manusia menciptakan:
- bahasa,
- tulisan,
- kitab,
- perpustakaan,
- sekolah,
- universitas,
- laboratorium,
- pusat penelitian,
- lembaga teknologi,
- perusahaan inovasi,
- dan berbagai bentuk institusi pengetahuan lainnya.
Semua itu pada hakikatnya merupakan perpanjangan daya ingat dan daya pikir manusia secara kolektif.
Seorang manusia mempunyai memori.
Peradaban mempunyai memori institusional.
Seorang manusia dapat berpikir.
Institusi pengetahuan dapat membuat proses berpikir tersebut berlangsung lintas generasi.
Di sinilah terjadi lompatan besar:
kecerdasan individual → kecerdasan kolektif.
---
2. Institusi Pengetahuan sebagai “Otak” Peradaban
Kita dapat menggunakan analogi sederhana.
Tubuh manusia mempunyai jaringan saraf yang memungkinkan berbagai bagian tubuh berkomunikasi dan bekerja sebagai satu kesatuan.
Demikian pula peradaban mempunyai jaringan institusi yang memungkinkan berbagai manusia mengembangkan dan menghubungkan pengetahuan.
Universitas menghasilkan penelitian.
Laboratorium menguji hipotesis.
Perpustakaan menyimpan pengetahuan.
Industri mengubah pengetahuan menjadi teknologi.
Negara menyediakan infrastruktur dan arah strategis.
Masyarakat menggunakan hasil teknologi tersebut.
Kemudian pengalaman dari penggunaan tersebut menghasilkan persoalan baru.
Persoalan baru melahirkan penelitian baru.
Penelitian baru menghasilkan pengetahuan baru.
Pengetahuan baru melahirkan teknologi baru.
Dengan demikian terbentuk sebuah siklus:
pertanyaan → penelitian → pengetahuan → teknologi → aplikasi → pengalaman → pertanyaan baru.
Jika siklus tersebut berlangsung terus-menerus, maka sebuah peradaban memiliki kemampuan untuk belajar.
Dan peradaban yang mampu belajar memiliki kemampuan untuk berubah.
---
3. Dari “Orang Pintar” Menuju “Mesin Pengetahuan”
Di sinilah saya melihat konsekuensi penting dari konsep ilmu asma.
Tujuan akhirnya bukan sekadar menciptakan manusia pintar.
Manusia pintar sudah banyak.
Yang jauh lebih penting adalah menciptakan sistem yang mampu terus-menerus menghasilkan manusia pintar dan pengetahuan baru.
Perbedaannya sangat besar.
Model pertama:
orang pintar → menghasilkan gagasan.
Model kedua:
institusi → menemukan orang berbakat → mengembangkan kemampuannya → mempertemukannya dengan peneliti lain → menyediakan fasilitas → menguji gagasannya → mendokumentasikan hasilnya → mengembangkan hasil tersebut → melahirkan generasi peneliti berikutnya.
Model kedua merupakan sebuah mesin reproduksi pengetahuan.
Di sinilah produktivitas institusi pengetahuan menjadi sangat penting.
---
4. Produktivitas Pengetahuan Bukan Jumlah Orang Berpendidikan
Sebuah negara dapat memiliki jutaan sarjana tetapi belum tentu memiliki produktivitas pengetahuan yang tinggi.
Sebab jumlah lulusan pendidikan tidak identik dengan jumlah pengetahuan baru.
Ukuran yang lebih mendasar adalah:
Berapa banyak pengetahuan baru yang dapat dilahirkan oleh suatu sistem?
Misalnya:
- berapa banyak persoalan baru yang berhasil dirumuskan;
- berapa banyak hipotesis baru yang diuji;
- berapa banyak teori atau model baru yang dihasilkan;
- berapa banyak teknologi baru yang dikembangkan;
- berapa banyak masalah konkret yang dapat diselesaikan;
- seberapa cepat pengetahuan dari satu bidang dapat ditransfer ke bidang lain;
- dan seberapa efektif generasi berikutnya mewarisi kemampuan menghasilkan pengetahuan.
Dengan demikian kita harus membedakan:
pendidikan dari produksi pengetahuan.
Pendidikan terutama mentransmisikan pengetahuan yang sudah ada.
Institusi pengetahuan yang produktif melakukan sesuatu yang lebih tinggi:
menghasilkan sesuatu yang sebelumnya belum diketahui.
---
5. Siklus Produktivitas Institusi Pengetahuan
Jika konsep ini dikembangkan lebih jauh, produktivitas institusi pengetahuan dapat digambarkan sebagai sebuah rantai.
Tahap pertama — Identifikasi manusia
Sistem harus mampu menemukan manusia dengan kemampuan kognitif luar biasa.
Bukan hanya berdasarkan nilai sekolah.
Sebab nilai akademik terutama mengukur performa terhadap sistem pendidikan yang sudah tersedia.
Sementara itu, calon penemu masa depan mungkin memiliki karakter berbeda:
- rasa ingin tahu yang ekstrem;
- kemampuan melihat hubungan antarbenda;
- kemampuan berpikir abstrak;
- kemampuan bertanya secara fundamental;
- kemampuan bekerja dengan masalah yang belum memiliki jawaban;
- intuisi terhadap pola;
- kemampuan belajar mandiri;
- dan kemampuan menghubungkan berbagai disiplin.
Tahap kedua — Pengembangan potensi
Di sinilah konsep ilmu asma yang dibahas sebelumnya menjadi relevan.
Apabila manusia memang memiliki potensi kognitif laten, maka pendidikan tidak cukup hanya memberikan informasi.
Pendidikan harus juga mengembangkan instrumen penerima pengetahuan.
Dengan kata lain:
bukan hanya mengisi pikiran,
tetapi juga mengembangkan kemampuan pikiran untuk mengetahui.
Tahap ketiga — Penempatan
Manusia dengan kemampuan tertentu harus dipertemukan dengan lingkungan yang sesuai.
Seorang ahli matematika tidak harus ditempatkan di lingkungan yang sama dengan ahli biologi.
Namun pada tingkat tertentu keduanya harus dapat berinteraksi.
Sebab banyak terobosan justru muncul pada perbatasan antarbidang.
Matematika bertemu fisika.
Biologi bertemu teknologi informasi.
Neurosains bertemu kecerdasan buatan.
Material science bertemu energi.
Dan seterusnya.
Tahap keempat — Penelitian
Potensi individual kemudian diarahkan kepada persoalan nyata.
Di sinilah intuisi harus berhadapan dengan kenyataan.
Sebuah intuisi mungkin sangat kuat.
Tetapi ia tetap harus berubah menjadi:
pertanyaan → hipotesis → eksperimen → data → evaluasi → koreksi.
Inilah titik penting yang membedakan ilham sebagai sumber gagasan dari ilmu sebagai pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tahap kelima — Institusionalisasi
Penemuan tidak boleh berhenti pada orang yang menemukannya.
Ia harus:
- ditulis;
- disimpan;
- diuji ulang;
- dikritik;
- dikembangkan;
- diajarkan;
- dan digunakan oleh manusia lain.
Dengan demikian pengetahuan berubah menjadi aset peradaban.
---
6. Dari Kecerdasan Individual Menuju Supra-Kecerdasan Institusional
Pada titik ini istilah “kecerdasan supra” yang digunakan dalam tulisan sebelumnya memperoleh makna baru.
Kita tidak perlu memahaminya sebagai kemampuan mistis yang berdiri di luar hukum alam.
Secara konseptual, ia dapat dipahami sebagai kemampuan manusia untuk melihat hubungan yang lebih luas daripada hubungan yang biasanya terlihat oleh pikiran individual.
Tetapi ada tahap yang lebih tinggi lagi.
Ketika banyak manusia dengan kemampuan berbeda ditempatkan dalam sebuah sistem yang memungkinkan mereka:
berkomunikasi + berbagi pengetahuan + mengkritik + menguji + mengoreksi + membangun di atas hasil sebelumnya,
maka lahirlah sesuatu yang tidak dimiliki oleh satu individu.
Kita dapat menyebutnya:
Ia bukan kecerdasan satu orang.
Ia merupakan kecerdasan yang muncul dari jaringan manusia, pengetahuan, instrumen, arsip, metode, dan pengalaman yang saling terhubung.
Inilah salah satu rahasia kekuatan universitas dan pusat penelitian besar.
Seorang ilmuwan mungkin sangat cerdas.
Tetapi sebuah institusi penelitian yang produktif dapat mempertahankan proses pencarian pengetahuan bahkan setelah ilmuwan tersebut pergi.
---
7. Mengapa Institusi Lebih Penting daripada Individu?
Karena manusia memiliki umur.
Institusi dapat memiliki umur yang jauh lebih panjang.
Seorang ilmuwan mungkin melakukan penelitian selama empat puluh tahun.
Tetapi sebuah universitas dapat melanjutkan penelitian tersebut selama ratusan tahun.
Seorang penemu dapat menemukan satu teknologi.
Tetapi institusi yang baik dapat menghasilkan ribuan penemu berikutnya.
Maka persoalan peradaban bukan lagi:
“Siapa manusia paling cerdas?”
Pertanyaannya berubah menjadi:
“Sistem seperti apa yang mampu secara terus-menerus menghasilkan manusia yang mampu menemukan?”
Ini merupakan perubahan paradigma yang sangat penting.
---
8. Dari Institusi Pengetahuan Menuju Kekuatan Peradaban
Jika kita mengikuti rantai tersebut sampai ke tingkat makro, maka terlihat sebuah struktur:
manusia → kelompok → institusi → ekosistem pengetahuan → teknologi → ekonomi → negara → peradaban.
Artinya, kekuatan teknologi sebenarnya mempunyai akar yang lebih dalam.
Teknologi lahir dari pengetahuan.
Pengetahuan lahir dari proses mengetahui.
Proses mengetahui membutuhkan manusia.
Dan kemampuan manusia untuk mengetahui dapat dikembangkan melalui sistem pendidikan, penelitian, dan kebudayaan.
Karena itu kekuatan suatu peradaban tidak semata-mata terletak pada:
- jumlah penduduk,
- luas wilayah,
- sumber daya alam,
- jumlah modal,
- atau kekuatan militer.
Semua itu penting.
Tetapi ada satu lapisan yang lebih fundamental:
kemampuan menghasilkan pengetahuan baru.
---
9. Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Pengetahuan
Dua negara dapat memiliki sumber daya alam yang hampir sama.
Tetapi hasil peradabannya dapat sangat berbeda.
Mengapa?
Karena sumber daya alam hanyalah potensi.
Agar menjadi kekuatan, ia harus dikenali, dipahami, diolah, dan diubah menjadi sistem produktif.
Dan seluruh proses tersebut membutuhkan pengetahuan.
Bahkan sumber daya yang paling sederhana sekalipun membutuhkan ilmu untuk menghasilkan nilai.
Tanah membutuhkan ilmu pertanian.
Mineral membutuhkan geologi dan metalurgi.
Energi membutuhkan fisika dan rekayasa.
Obat membutuhkan biologi, kimia, kedokteran, dan teknologi produksi.
Komunikasi membutuhkan matematika, fisika, komputer, dan jaringan.
Maka semakin tinggi kemampuan sebuah peradaban menghasilkan pengetahuan, semakin besar pula kemampuannya mengubah potensi menjadi kekuatan aktual.
---
10. Di Sinilah “Ilmu Asma” Mendapat Fungsi Peradabannya
Jika seluruh rangkaian pembahasan ini kita tarik kembali kepada ilmu asma, maka kita memperoleh sebuah hipotesis yang lebih besar.
Ilmu asma tidak harus dipahami sebagai ilmu untuk menghafal nama-nama.
Ia dapat dipahami sebagai metode untuk mengenali struktur realitas melalui hubungan antaraspek realitas.
Jika kemampuan tersebut berhasil dikembangkan dalam manusia, maka manusia tidak hanya menjadi penyimpan informasi.
Ia menjadi penghasil hubungan baru antarpengetahuan.
Dan ketika manusia seperti itu ditempatkan dalam institusi yang tepat, kemampuan individual tersebut dapat berubah menjadi produktivitas kolektif.
Maka rantainya menjadi:
Asma → kemampuan mengenali struktur → kecerdasan manusia → penelitian → pengetahuan baru → institusi pengetahuan → teknologi → perubahan peradaban.
Di sinilah ilmu asma memperoleh konsekuensi peradabannya.
---
11. Ilmu Asma Bukan Tujuan Akhir
Ada satu hal yang menurut saya harus ditegaskan.
Jika ilmu asma hanya menghasilkan pengalaman batin, maka keberhasilannya masih berada pada tingkat individual.
Jika ia menghasilkan manusia yang lebih mampu melihat, memahami, menghubungkan, dan menemukan, maka ia sudah memasuki tingkat epistemologis.
Tetapi jika kemampuan tersebut berhasil melahirkan institusi yang secara konsisten menghasilkan pengetahuan baru, maka ia memasuki tingkat peradaban.
Karena itu ukuran keberhasilannya bukan semata:
“Apa yang dialami seseorang?”
melainkan:
“Apa yang dapat lahir dari pengalaman tersebut?”
Apakah lahir metode?
Apakah lahir teori?
Apakah lahir penelitian?
Apakah lahir teknologi?
Apakah lahir institusi?
Apakah lahir generasi manusia yang lebih mampu mengetahui?
Di situlah sebuah pengalaman batin mulai memiliki konsekuensi objektif.
---
12. Dari Adam Menuju Institusi Pengetahuan
Jika kita kembali kepada ayat:
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا
maka terbentuklah sebuah rangkaian pemikiran yang menarik.
Allah mengajarkan Adam al-asmā’.
Manusia kemudian memiliki kemampuan untuk mengenali dunia.
Manusia memberi nama.
Nama berkembang menjadi konsep.
Konsep membentuk hubungan.
Hubungan menghasilkan pengetahuan.
Pengetahuan diwariskan melalui bahasa dan tulisan.
Pengetahuan kemudian dilembagakan.
Institusi menyimpan pengetahuan.
Institusi menghasilkan pengetahuan baru.
Pengetahuan baru melahirkan teknologi.
Teknologi mengubah lingkungan kehidupan manusia.
Dan perubahan lingkungan tersebut kemudian mengubah manusia kembali.
Dengan demikian kita memperoleh sebuah lingkaran:
Adam → Asma → Pengetahuan → Institusi → Teknologi → Peradaban → Manusia.
Kemudian manusia yang baru kembali membaca realitas dengan kemampuan yang lebih tinggi.
Siklus pun berlanjut.
---
13. Institusi Pengetahuan sebagai Mesin Evolusi Peradaban
Di sini konsep ilmu asma bertemu dengan teori evolusi peradaban yang sedang kita bangun.
Dinamika mikro terjadi di dalam manusia.
Kesadaran berkembang.
Cara berpikir berubah.
Kemampuan mengenali pola meningkat.
Pengetahuan bertambah.
Sementara dinamika makro berlangsung pada lingkungan institusional.
Sekolah berubah.
Universitas berkembang.
Laboratorium berkembang.
Teknologi berubah.
Ekonomi berubah.
Struktur sosial berubah.
Keduanya saling memengaruhi.
Manusia mengubah institusi, dan institusi mengubah manusia.
Inilah yang dapat disebut sebagai ko-evolusi manusia dan institusi.
Manusia yang lebih mampu mengetahui menciptakan institusi yang lebih baik.
Institusi yang lebih baik kemudian menghasilkan manusia yang lebih mampu mengetahui.
Maka terbentuklah sebuah umpan balik:
manusia → institusi → manusia yang lebih maju → institusi yang lebih maju → manusia yang lebih maju lagi.
Jika siklus ini berlangsung terus-menerus, peradaban mengalami akselerasi.
---
14. Teknologi sebagai Produk Akhir, Bukan Titik Awal
Sering kali kita melihat teknologi sebagai sumber kekuatan.
Padahal teknologi adalah hasil akhir dari rantai yang jauh lebih panjang.
Di belakang sebuah teknologi terdapat:
pertanyaan → manusia → pendidikan → penelitian → institusi → pengetahuan → rekayasa → teknologi.
Karena itu apabila suatu bangsa hanya membeli teknologi tanpa membangun kemampuan menghasilkan pengetahuan, maka ia berada pada posisi sebagai konsumen teknologi.
Sebaliknya, bangsa yang mampu menghasilkan pengetahuan dapat menjadi produsen teknologi.
Dan bangsa yang mampu menghasilkan manusia serta institusi yang terus-menerus menghasilkan pengetahuan baru memiliki kemampuan untuk menjadi pencipta arah teknologi.
Inilah tingkatan yang berbeda.
---
15. Bahkan Kecerdasan Buatan Mengikuti Pola yang Sama
Kecerdasan buatan memperlihatkan persoalan ini dengan sangat jelas.
AI dapat mempercepat:
- pencarian informasi,
- analisis data,
- pemodelan,
- simulasi,
- pemrograman,
- dan berbagai pekerjaan intelektual.
Tetapi AI tidak otomatis menentukan pertanyaan apa yang paling penting untuk ditanyakan.
Manusia tetap membutuhkan kemampuan epistemik untuk menentukan:
apa yang harus dicari, mengapa harus dicari, bagaimana menguji hasilnya, dan apakah hasil tersebut benar-benar bermakna.
Karena itu AI paling kuat ketika menjadi pengganda produktivitas sebuah institusi pengetahuan yang sudah memiliki:
- manusia berkualitas;
- pertanyaan yang baik;
- data;
- metode;
- laboratorium;
- mekanisme verifikasi;
- dan budaya kritik.
Dengan demikian teknologi baru tidak menghapus pentingnya institusi pengetahuan.
Justru sebaliknya.
Ia dapat memperbesar perbedaan antara institusi yang mampu menggunakannya dengan institusi yang tidak mampu.
---
16. Dari Pengetahuan Menuju Kekuatan Strategis
Pada akhirnya pengetahuan selalu mempunyai konsekuensi strategis.
Pengetahuan tentang energi menghasilkan kekuatan energi.
Pengetahuan tentang biologi menghasilkan kemampuan bioteknologi.
Pengetahuan tentang material menghasilkan kemampuan material maju.
Pengetahuan tentang komputasi menghasilkan kemampuan digital.
Pengetahuan tentang sistem kompleks menghasilkan kemampuan mengendalikan dan mengoptimalkan sistem yang semakin besar.
Karena itu kekuatan strategis sebuah negara pada tingkat terdalam bukan sekadar jumlah persenjataannya.
Ia juga merupakan kemampuan epistemiknya:
kemampuan untuk memahami sistem,
menemukan kelemahan,
menemukan kemungkinan,
membangun model,
menguji,
dan menciptakan teknologi baru.
Dalam kerangka inilah istilah seperti “melumpuhkan saraf” dapat dipahami secara konseptual sebagai metafora tentang titik-titik ketergantungan sebuah sistem yang sangat kompleks—bukan sebagai petunjuk teknis untuk menyerang sistem militer tertentu.
---
17. Kembali kepada Gagasan “Pelumpuh”
Jika sebuah sistem sangat kompleks, maka kekuatannya sekaligus menciptakan ketergantungan.
Semakin besar jaringan yang dibangun, semakin banyak hubungan yang harus dipertahankan agar keseluruhan sistem tetap bekerja.
Karena itu sebuah sistem tidak selalu harus dihancurkan secara fisik untuk kehilangan efektivitasnya.
Dalam teori sistem, yang lebih menarik justru adalah pertanyaan:
Apa yang membuat sebuah sistem tetap berfungsi sebagai satu kesatuan?
Pertanyaan tersebut jauh lebih fundamental daripada:
Apa yang harus dihancurkan?
Dan di sinilah konsep asma kembali muncul.
Jika asma dipahami sebagai simpul-simpul relasional dalam suatu struktur, maka memahami sistem berarti memahami:
objek → fungsi → hubungan → ketergantungan → aliran → koordinasi → keseluruhan.
Maka orang yang memahami struktur secara integral tidak hanya melihat benda.
Ia melihat arsitektur hubungan.
---
18. Kesimpulan: Produk Utama Ilmu Asma
Setelah seluruh rangkaian ini disusun, kita dapat merumuskan tesis utama tulisan ini:
«Produk utama ilmu asma bukanlah sekadar manusia yang lebih pintar, melainkan produktivitas institusi pengetahuan.»
Manusia merupakan titik awal.
Tetapi manusia bukan titik akhir.
Potensi kecerdasan individual harus dikembangkan.
Kecerdasan harus diarahkan kepada pencarian.
Pencarian harus dilembagakan.
Institusi harus mampu menghasilkan pengetahuan baru.
Pengetahuan harus diterjemahkan menjadi kemampuan memecahkan persoalan.
Dan kemampuan tersebut pada akhirnya mengubah peradaban.
Maka keseluruhan struktur dapat diringkas:
Ilmu Asma
↓
Pengembangan potensi manusia
↓
Kecerdasan dan kemampuan mengenali struktur
↓
Penelitian
↓
Pengetahuan baru
↓
Institusi pengetahuan
↓
Teknologi dan inovasi
↓
Kekuatan peradaban
Dengan demikian, apabila kita bertanya:
“Untuk apa manusia diajarkan al-asmā’?”
maka salah satu kemungkinan jawaban filosofisnya adalah:
agar manusia mampu mengenali struktur realitas, mengembangkan pengetahuan tentangnya, dan menggunakan pengetahuan tentangnya, dan menggunakan pengetahuan tersebut untuk membangun dunia.
EPILOG
Dari Adam ke Peradaban
Ayat tentang Adam mungkin dapat dibaca bukan hanya sebagai kisah tentang masa lalu.
Ia dapat dibaca sebagai pertanyaan tentang manusia itu sendiri:
Apa sebenarnya kemampuan dasar yang diberikan kepada manusia sehingga manusia mampu menjadi manusia?
Jawabannya, dalam salah satu pembacaan filosofis, mungkin terletak pada kemampuan mengenali asmā’.
Manusia tidak hanya melihat sesuatu.
Ia mengenalinya.
Ia membedakannya.
Ia memberinya nama.
Ia menghubungkannya.
Ia mencari hukumnya.
Ia menemukan polanya.
Ia membuat modelnya.
Ia mengujinya.
Ia mengembangkan teknologi darinya.
Dan akhirnya ia mengubah dunia berdasarkan apa yang telah diketahuinya.
Karena itu mungkin persoalan terbesar manusia bukan kekurangan informasi.
Persoalannya adalah kemampuan menggunakan informasi untuk menemukan struktur yang belum diketahui.
Dan jika benar terdapat potensi pengetahuan yang jauh lebih besar di dalam diri manusia daripada yang selama ini kita gunakan, maka tantangan berikutnya bukan sekadar menemukan manusia yang memiliki potensi tersebut.
Tantangannya adalah menciptakan institusi yang mampu membangkitkan, mengembangkan, menghubungkan, dan mewariskan potensi tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di situlah ilmu berubah menjadi kekuatan peradaban.
Dan di situlah ilmu asma—dalam konstruksi pemikiran yang sedang kita bangun—berhenti menjadi sekadar persoalan tafsir terhadap sebuah ayat.
Ia menjadi sebuah pertanyaan besar tentang masa depan manusia:
Apakah manusia dapat menemukan kembali kunci untuk membaca struktur realitas yang telah diajarkan kepadanya sejak awal keberadaannya—dan kemudian membangun institusi yang mampu menggunakan kemampuan itu untuk melahirkan pengetahuan baru tanpa henti?
Jika jawabannya ya, maka evolusi peradaban pada dasarnya adalah evolusi kemampuan manusia untuk mengetahui.
Dan peradaban yang paling maju bukanlah peradaban yang paling banyak mengetahui apa yang sudah diketahui.
Melainkan peradaban yang paling produktif dalam menemukan apa yang belum diketahui.
Komentar
Posting Komentar