Membaca Nubuatan Hadis tentang Batu, Pohon, dan Gharqad di Era Gadget dan Media Sosial
By. Hamba Sejati
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, telah menceritakan kepada kami Ya'qub (yaitu Ibnu Abdurrahman), dari Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda :
"Hari Kiamat tidak akan terjadi hingga kaum Muslimin memerangi kaum Yahudi. Lalu kaum Muslimin membunuh mereka, sampai-sampai orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon, lalu batu atau pohon itu berkata: 'Wahai Muslim, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi di belakangku, kemarilah dan bunuhlah dia!' Kecuali pohon Gharqad, karena sesungguhnya pohon itu adalah pohon kaum Yahudi." [ Sahih Muslim ]
Dari benda yang diam menjadi saksi yang berbicara : ketika arus informasi mengubah medan opini dunia
1. Sebuah Hadis yang Menyimpan Gambaran Aneh
Ada sebuah hadis Nabi ﷺ yang sejak berabad-abad lalu menyimpan gambaran yang bagi manusia pada zaman itu hampir mustahil dibayangkan.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa akan terjadi suatu keadaan ketika orang-orang Yahudi bersembunyi di balik batu atau pohon, kemudian batu atau pohon itu berkata :
«“Wahai Muslim, ada seorang Yahudi di belakangku. Kemarilah dan bunuhlah dia.”»
Kemudian hadis itu memberikan pengecualian:
«“Kecuali pohon Gharqad, karena ia adalah pohon orang-orang Yahudi.”»
Riwayat tersebut terdapat dalam Sahih Muslim 2922 dan memiliki riwayat paralel dalam Sahih al-Bukhari.
Selama berabad-abad, manusia membaca hadis tersebut terutama dalam kerangka eskatologis: gambaran tentang suatu peristiwa menjelang akhir zaman.
Tetapi ada satu hal yang menarik apabila hadis tersebut kita tempatkan dalam konteks zaman modern.
Hadis itu menggambarkan sesuatu yang pada zamannya sangat tidak biasa :
benda-benda alam yang semula diam menjadi sumber informasi.
Batu.
Pohon.
Keduanya tidak bergerak.
Tidak berbicara.
Tidak memiliki kesadaran.
Tetapi dalam gambaran hadis, keduanya menjadi pembawa informasi tentang keberadaan manusia yang bersembunyi di baliknya.
Apakah mungkin kita membaca gambaran tersebut secara simbolik dalam konteks revolusi informasi modern?
---
2. Ketika “Batu” Mendapat Suara
Manusia modern hidup dalam dunia yang sangat berbeda.
Benda yang berada di tangan kita sekarang mampu melakukan sesuatu yang pada masa lalu hanya dapat dilakukan oleh manusia :
melihat, merekam, menyimpan, dan menyampaikan informasi.
Sebuah telepon genggam yang ukurannya hanya beberapa sentimeter dapat :
- merekam video,
- mengambil foto,
- merekam suara,
- menentukan lokasi,
- menyimpan data,
- mengakses satelit,
- mengakses internet,
- dan mengirimkan informasi tersebut kepada jutaan manusia dalam hitungan detik.
Benda mati menjadi perantara kesaksian.
Di sinilah muncul pembacaan simbolik yang menarik :
«“Batu” dapat kita bayangkan sebagai metafora bagi benda mati yang menjadi perangkat pembawa informasi.»
Hari ini manusia menyebutnya :
Android.
iPhone.
Tablet.
Kamera digital.
Dan berbagai perangkat elektronik lainnya.
Tentu saja hadis tidak mengatakan bahwa batu berarti iPhone atau Android.
Itu bukan makna literal hadis.
Tetapi sebagai pembacaan simbolik terhadap gambaran nubuatan, analogi tersebut menarik :
«benda mati yang sebelumnya tidak mempunyai kemampuan berbicara kini menjadi medium yang mampu "mengatakan" apa yang dilihatnya.»
---
3. Lalu Apa yang Dimaksud dengan “Pohon”?
Jika batu kita baca sebagai simbol benda atau perangkat yang membawa informasi, maka bagian kedua menjadi lebih menarik.
Hadis tidak hanya menyebut batu.
Ia menyebut :
«الشَّجَرُ — pohon.»
Pohon memiliki karakter yang berbeda dari batu.
Pohon hidup.
Ia tumbuh.
Ia mempunyai cabang.
Ia menyebar.
Dan satu pohon dapat menghasilkan banyak cabang.
Jika kita menggunakan pendekatan simbolik, pohon dapat dibaca sebagai gambaran jaringan informasi.
Satu informasi masuk.
Kemudian bercabang.
Dibagikan.
Dikutip.
Dipotong.
Diterjemahkan.
Dikomentari.
Diperbesar.
Dan akhirnya menyebar ke jutaan manusia.
Inilah yang terjadi dalam :
Facebook.
X.
YouTube.
TikTok.
Instagram.
Telegram.
WhatsApp.
Dan berbagai platform komunikasi digital lainnya.
Media sosial bukan lagi sekadar media.
Ia adalah jaringan distribusi informasi horizontal yang tidak sepenuhnya dikendalikan oleh institusi media tradisional.
---
4. Dari Media yang Mengontrol Informasi kepada Informasi yang Mengontrol Media
Pada abad ke-20, arus informasi internasional sangat bergantung pada institusi media besar.
BBC.
CNN.
Fox News.
The New York Times.
The Washington Post.
Reuters.
Associated Press.
Dan berbagai kantor berita serta jaringan televisi besar lainnya.
Mereka memiliki :
kamera,
wartawan,
studio,
satelit,
editor,
jaringan koresponden,
dan kemampuan menentukan berita mana yang menjadi perhatian publik.
Masyarakat terutama menjadi konsumen informasi.
Tetapi internet mengubah struktur tersebut.
Kemudian smartphone mengubahnya lebih jauh.
Dan media sosial mengubahnya secara radikal.
Sekarang seseorang yang berada di Gaza dapat merekam sesuatu dengan telepon genggamnya.
Tidak perlu memiliki stasiun televisi.
Tidak perlu memiliki kantor berita.
Tidak perlu memiliki satelit.
Tidak perlu mempunyai koran.
Ia cukup mempunyai :
kamera + internet + audiens.
Informasi kemudian dapat bergerak dari :
Gaza → smartphone → media sosial → jutaan manusia → media internasional → parlemen → universitas → demonstrasi jalanan → kebijakan pemerintah.
Inilah perubahan yang sangat besar.
Publik bukan lagi hanya penerima berita.
Publik menjadi produsen dan distributor berita.
---
5. Perang Gaza dan Runtuhnya Monopoli Narasi
Di sinilah hubungan dengan konflik Israel–Palestina menjadi sangat menarik.
Selama beberapa dekade, Israel memiliki kemampuan komunikasi yang sangat besar.
Ia mempunyai :
- negara,
- diplomasi,
- hubungan internasional,
- media,
- jaringan politik,
- hubungan erat dengan Washington,
- dan kemampuan menyampaikan narasinya kepada publik Barat.
Tetapi perang Gaza menghasilkan sesuatu yang berbeda.
Kamera berada di tangan masyarakat.
Bukan hanya wartawan.
Bukan hanya pemerintah.
Bukan hanya jaringan televisi.
Masyarakat biasa merekam kenyataan yang mereka lihat.
Kemudian gambar tersebut beredar jauh lebih cepat daripada kemampuan institusi tradisional untuk mengendalikan konteksnya.
Dan akibatnya mulai terlihat pada opini publik.
Pada musim semi 2026, Pew Research Center menemukan bahwa median 67% responden di 36 negara mempunyai pandangan tidak baik terhadap Israel, sementara hanya 25% yang mempunyai pandangan positif.
Bahkan di Amerika Serikat sendiri, pada April 2026, 60% orang dewasa mempunyai pandangan tidak baik terhadap Israel, meningkat dari 53% setahun sebelumnya.
Dan perubahan tersebut sangat kuat pada kelompok muda.
Pada Juli 2026, Pew melaporkan bahwa pandangan orang Amerika terhadap orang Israel telah menjadi semakin negatif dibandingkan beberapa tahun sebelumnya; pada saat yang sama, pandangan terhadap orang Palestina relatif lebih stabil sehingga jarak persepsi antara keduanya semakin menyempit.
Ini adalah perubahan yang sangat penting.
Bukan karena semua orang tiba-tiba mempunyai pandangan yang sama.
Tetapi karena monopoli lama dalam membentuk persepsi publik semakin sulit dipertahankan.
---
6. “Pohon” yang Tidak Bisa Lagi Dipangkas
Inilah mungkin bagian paling menarik dari metafora pohon.
Media tradisional memiliki :
editor.
Media sosial memiliki :
jutaan cabang.
Satu video dapat dihapus dari satu platform.
Tetapi telah disalin ke platform lain.
Satu akun dapat diblokir.
Tetapi videonya sudah berada di ribuan akun lain.
Satu narasi dapat dibantah.
Tetapi rekaman visualnya telah disimpan oleh jutaan orang.
Inilah karakter jaringan.
Ia tidak mempunyai satu batang yang mudah ditebang.
Ia mempunyai ribuan cabang.
Dan ketika satu cabang dipotong, cabang lain dapat terus tumbuh.
Dalam pengertian inilah metafora “pohon informasi” menjadi sangat menarik.
---
7. Dari Batu kepada Pohon
Jika kita mengikuti urutan hadis secara simbolik :
batu → pohon → informasi
maka kita memperoleh sebuah perkembangan teknologi yang sangat menarik.
Batu :
«benda mati.»
Smartphone :
«benda mati yang mampu menangkap dan menyampaikan informasi.»
Pohon :
«jaringan bercabang.»
Media sosial :
«jaringan informasi yang bercabang tanpa pusat tunggal.»
Maka dunia modern menghasilkan sesuatu yang bagi manusia abad ketujuh hampir merupakan fantasi:
«benda mati dapat menjadi mata, telinga, kamera, penyimpan data, dan pembawa pesan.»
Dan jutaan benda tersebut sekarang terhubung menjadi jaringan global.
---
8. Tetapi Bagaimana dengan Gharqad?
Di sinilah bagian paling berani dari pembacaan ini.
Hadis memberikan satu pengecualian :
«Gharqad.»
Batu berbicara.
Pohon berbicara.
Tetapi :
«Gharqad tidak berbicara.»
Jika kita membaca hadis secara literal, ini adalah bagian dari nubuatan eskatologis yang tidak boleh kita ubah seenaknya menjadi alegori politik.
Tetapi jika kita membuka ruang untuk pembacaan simbolik kontemporer, muncul sebuah kemungkinan yang sangat menarik.
Bagaimana jika Gharqad melambangkan kekuatan yang tetap menjadi tempat perlindungan ketika jaringan informasi lainnya telah berubah menjadi saksi ?
Dalam konteks geopolitik modern, siapakah pelindung paling kuat Israel ?
Amerika Serikat.
Amerika mempunyai :
kekuatan militer, kekuatan diplomatik, kekuatan ekonomi, pengaruh institusional, hak veto di Dewan Keamanan PBB, dan hubungan strategis yang sangat dalam dengan Israel.
Maka dalam pembacaan simbolik ini :
«Gharqad dapat dibaca sebagai metafora bagi Amerika Serikat sebagai pelindung strategis utama Israel.»
Bukan karena hadis mengatakan :
«“Gharqad adalah Amerika.”»
Hadis tidak mengatakan itu.
Tetapi karena kita sedang menguji kemungkinan bahwa “pohon yang tidak berbicara” dapat menjadi simbol bagi suatu struktur perlindungan yang tetap berdiri ketika lingkungan informasi di sekelilingnya berubah.
---
9. Sebuah Kontras yang Sangat Menarik
Jika pembacaan ini kita teruskan, terbentuklah sebuah kontras :
Batu → berbicara.
Pohon → berbicara.
Gharqad → tidak berbicara.
Dalam dunia modern :
gadget → merekam.
media sosial → menyebarkan.
opini publik → berubah.
Tetapi :
kekuatan strategis utama → tetap memberikan perlindungan.
Dengan kata lain :
«medan informasi dapat berubah jauh lebih cepat daripada medan kekuasaan.»
Dan mungkin inilah salah satu fenomena geopolitik paling penting pada zaman kita.
Israel dapat kehilangan sebagian legitimasi opini publik.
Tetapi itu tidak otomatis berarti kehilangan perlindungan strategis Amerika.
Israel dapat semakin tidak populer di banyak masyarakat dunia.
Tetapi dukungan negara tidak selalu bergerak secepat opini publik.
Inilah mengapa kita tidak boleh mencampuradukkan :
opini publik
dengan
kekuatan negara.
Keduanya adalah dua lapisan kekuasaan yang berbeda.
---
10. Namun Justru Di Sini Ada Sesuatu yang Sangat Besar Sedang Terjadi
Perubahan opini publik tidak boleh diremehkan.
Pada 2025, Pew sudah menemukan bahwa di 24 negara yang disurvei, pandangan terhadap Israel secara internasional jauh lebih negatif daripada positif.
Reuters juga melaporkan bahwa perang Gaza telah menghasilkan kerusakan reputasi internasional yang besar bagi Israel, bahkan menjadi persoalan yang diakui di dalam lingkungan kebijakan Israel sendiri.
Ini berarti terjadi sesuatu yang sebelumnya sulit dibayangkan:
«Israel masih memiliki salah satu jaringan perlindungan strategis terkuat di dunia, tetapi citra dan legitimasi publiknya mengalami erosi yang sangat besar.»
Dua hal itu dapat terjadi bersamaan.
Dan justru perbedaan itulah yang membuat metafora Gharqad menarik.
---
11. Pohon Informasi Mengubah Cara Dunia Melihat
Selama era media tradisional, publik dunia sebagian besar melihat konflik melalui:
kamera media.
Sekarang publik dunia semakin melihat konflik melalui:
kamera manusia yang berada di lokasi kejadian.
Ini bukan berarti media mainstream telah menjadi tidak berguna.
BBC tetap memiliki pengaruh.
CNN tetap memiliki pengaruh.
Reuters tetap mempunyai pengaruh.
Fox News tetap mempunyai pengaruh.
Tetapi mereka tidak lagi mempunyai monopoli atas bahan mentah realitas.
Satu orang dengan smartphone dapat menghasilkan gambar yang kemudian dipakai oleh semua media tersebut.
Dengan demikian terjadi pembalikan :
«dahulu media memberitakan dunia kepada masyarakat; sekarang masyarakat memasukkan dunia mentah kepada media.»
Dan ini merupakan perubahan peradaban.
---
12. Dari Informasi Menjadi Tekanan Politik
Informasi sendiri bukan kekuasaan.
Tetapi informasi yang menyebar secara masif dapat menghasilkan :
kesadaran → opini → tekanan sosial → demonstrasi → perubahan pilihan politik → perubahan kebijakan.
Itulah mengapa perubahan opini publik terhadap Israel penting.
Ketika generasi muda tumbuh dengan pengalaman digital yang berbeda dari generasi sebelumnya, mereka dapat membawa persepsi tersebut ke :
universitas,
media,
parlemen,
partai politik,
lembaga swadaya masyarakat,
dan akhirnya pemerintahan.
Dengan demikian perubahan opini publik hari ini mungkin belum langsung mengubah struktur kekuasaan.
Tetapi ia dapat mengubah generasi yang akan mengisi struktur tersebut.
Dan perubahan generasi adalah perubahan yang jauh lebih dalam.
---
13. Apakah Ini “Penggenapan” Hadis ?
Di sinilah kita harus menahan diri.
Kita tidak mempunyai dasar yang cukup untuk mengatakan :
«“Batu adalah Android.”»
atau :
«“Pohon adalah media sosial.”»
atau :
«“Gharqad pasti Amerika Serikat.”»
Itu akan mengubah pembacaan simbolik menjadi klaim tafsir yang tidak didukung oleh teks.
Tetapi kita boleh mengajukan pertanyaan :
«Apakah perkembangan teknologi informasi modern menghasilkan keadaan yang secara simbolik sangat menyerupai gambaran hadis tentang benda-benda yang menjadi pembawa informasi?»
Jawabannya :
ya, kemiripannya menarik.
Dan pertanyaan kedua :
«Apakah perubahan informasi tersebut sedang menghasilkan perubahan nyata dalam opini publik global terhadap Israel?»
Untuk pertanyaan ini kita memiliki data empiris.
Jawabannya juga :
ya, dan perubahannya cukup besar.
Tetapi pertanyaan terakhir :
«Apakah Gharqad benar-benar melambangkan Amerika Serikat?»
Itu masih merupakan hipotesis pembacaan, bukan fakta yang dapat dibuktikan.
Dan justru karena kita mengakuinya sebagai hipotesis, pembacaan ini menjadi lebih menarik daripada memaksakannya sebagai kepastian.
---
14. Trilogi yang Mulai Terbentuk
Jika ketiga artikel kita tempatkan bersama, kita mendapatkan tiga lapisan.
Artikel Pertama
Al-Mā'idah 51
«Wilāyah»
Membaca terbentuknya konfigurasi kekuatan Yahudi–Barat dan posisi umat Islam di dalamnya.
Artikel Kedua
Al-Mā'idah 78 + Muhammad 38
«Amanah dan Istibdāl»
Membaca bagaimana suatu umat dapat kehilangan posisi sejarah ketika amanah tidak lagi dipikul.
Artikel Ketiga
Hadis Gharqad
«Informasi dan perubahan persepsi»
Membaca bagaimana teknologi modern memungkinkan benda-benda yang sebelumnya diam menjadi medium kesaksian dan bagaimana arus informasi dapat mengubah opini dunia.
Ketiganya kemudian bertemu pada satu tema :
«Bagaimana sebuah konfigurasi kekuasaan terbentuk, bagaimana ia dapat kehilangan legitimasi, dan bagaimana sejarah kemudian mencari konfigurasi baru.»
---
15. Penutup : Ketika Batu Mulai Berbicara
Mungkin manusia abad ketujuh tidak dapat membayangkan dunia seperti sekarang.
Sebuah benda kecil di tangan manusia dapat melihat.
Ia dapat mendengar.
Ia dapat merekam.
Ia dapat menyimpan.
Ia dapat berbicara kepada jutaan manusia.
Dan jutaan benda tersebut sekarang membentuk jaringan global yang tidak mempunyai satu pusat.
Jika kita memakai bahasa simbolik hadis, seolah-olah :
batu telah memperoleh suara.
pohon telah memperoleh suara.
Tetapi ada satu pohon yang dalam hadis disebut tidak ikut berbicara :
Gharqad.
Apakah ini benar-benar menunjuk kepada suatu teknologi?
Tidak ada dasar yang cukup untuk mengatakan demikian.
Apakah Gharqad secara pasti menunjuk kepada Amerika Serikat?
Kita juga tidak dapat mengatakan demikian sebagai tafsir literal.
Tetapi sebagai sebuah pembacaan terhadap pola zaman, ada sebuah fenomena yang tidak dapat kita abaikan :
«Dunia telah memasuki zaman ketika kemampuan untuk menyampaikan kesaksian tidak lagi menjadi monopoli negara dan media besar.»
Satu kamera dapat mengguncang narasi.
Satu video dapat menembus sensor.
Satu kesaksian dapat menyebar ke seluruh dunia.
Dan jutaan kesaksian dapat mengubah persepsi sebuah generasi.
Itulah yang sedang kita lihat dalam perubahan opini global terhadap Israel.
Pelindung strategisnya masih kuat.
Tetapi lingkungan informasinya telah berubah.
Dan mungkin inilah pelajaran paling menarik dari hadis tersebut jika kita berani membacanya sebagai cermin zaman, bukan sekadar sebagai teka-teki simbol :
«Kekuasaan dapat tetap berdiri ketika legitimasi mulai runtuh.»
Dan sejarah menunjukkan bahwa keduanya tidak selalu runtuh pada waktu yang sama.
Kadang-kadang pohon-pohon telah lebih dahulu berbicara, sementara Gharqad masih berdiri.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah Gharqad akan tetap berdiri.
Pertanyaannya adalah :
«Berapa lama sebuah pelindung dapat mempertahankan sesuatu yang secara perlahan kehilangan legitimasi di mata dunia?»
Di situlah kita kembali kepada hukum sejarah yang telah kita bicarakan sejak awal :
wilāyah dapat membentuk kekuasaan.
informasi dapat mengikis legitimasi.
dan pada akhirnya, sejarah menentukan siapa yang masih sanggup mempertahankan amanahnya.
Komentar
Posting Komentar